L.O.V.E (4)

screenshot_2017-05-28-14-41-291.jpgCast: Taeyeon, Tiffany

Other cast: Yuri, Jessica, Seohyun, Sunny, Sooyoung

Happy reading

Typo bertebaran

.

.

.

Taeyeon menatap sedih wanita yang terbaring lemah di ranjang putih itu. Taeyeon menggenggam tangannya. Berharap dapat menyalurkan kekuatan padanya. Taeyeon merasakan kantuk yang luar biasa. Semalam ia tidak tidur untuk menjaga wanita itu.

“eungh”

“Eonnie? Wae? Kau butuh sesuatu?” Taeyeon bangkit dari duduknya. Ia memegang kedua pundak wanita itu. Wajah wanita itu tampak gelisah. Sesekali dahinya mengerut. Nafasnya mulai tersengal. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Taeyeon yang melihat itupun jadi panik.

“Eonnie!? Apa.. apa kau mimpi buruk? Katakan sesuatu, buka matamu!” Ujar taeyeon mulai meninggikan suaranya. Dengan cepat taeyeon menekan tombol yang berada diatas ranjang itu.

“Eonnie!! Boa eonnie!!” Taeyeon terkejut melihat boa menyemburkan darah dari mulutnya. Hingga mengenai sebagian wajah taeyeon. Tubuhnya bergetar.

“Ap..ppo” Ringisnya. Boa mencengkram baju yang dikenakan taeyeon. Taeyeon meletakan tangannya diatas tangan boa dan meremasnya.

“Chamkaman eonnie. Tahanlah sebentar. Dokter akan datang, ne?” Ujar taeyeon dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya. Ia tak sanggup melihat boa seperti ini.

“Ta..aeng a.a..ppo” Taeyeon yang mendengar itu menggigit bibir bawahnya. Air matanya semakin deras mengalir.

“Arra, aku tahu. Tahanlah sebentar, ne?” Ujarnya dengan suara bergetar. Taeyeon membersihkan noda darah yang menyebar di beberapa bagian wajah boa dengan ibu jarinya.

Ceklek

“Taeyeon-shi, beri waktu kami untuk memeriksa Mrs. Kim” Ujar dokter itu yang masuk tergesa dengan beberapa suster dibelakangnya.

“Dia sangat kesakitan, dok. Aku mohon lakukan yang terbaik” Taeyeon menggenggam erat tangan dokter itu.

“Tentu, taeyeon-shi. Sekarang berikan kami sedikit ruang untuk memeriksanya” Ujar dokter itu segera melepaskan genggaman taeyeon dan beralih kesamping boa untuk memeriksanya. Taeyeon pun berjalan keluar dengan gontai.

“Dia akan baik-baik saja”

“Dia akan baik-baik saja”

“Dia akan baik-baik saja”

“Boa eonnie wanita yang kuat”

Taeyeon terus bergumam. Ia mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. Pikirannya kacau. Boa eonnie bukan sekedar saudara ipar untuknya. Boa eonnie sudah ia anggap seperti saudara kandungnya sendiri. Ia juga menganggap boa sebagai pengganti eomma-nya.

Boa memperlakukan taeyeon dan jiwoong dengan baik. Saat orang tua mereka meninggal semua jadi kacau. Boa membantu memulihkan perusahaan keluarga kim yang tengah terpuruk. Ia juga membantu membiayai pendidikan taeyeon. Hingga akhirnya ia menikah dengan jiwoong. Karena itulah taeyeon sangat menghormati boa.

Ceklek

Taeyeon segera bangkit dari duduknya melihat dokter keluar dari ruangan boa.

“Ba.bagaimana keadaan eonnie, dok?”

“…”

“W.wwae? Ada apa? Katakan sesuatu!?”

“Saya minta maaf. Kondisi Mrs. Kim Semakin parah. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan”

“Andwe!! Apa maksudmu bicara seperti itu!? Kau seorang dokter!! Sudah tugasmu untuk menyembuhkan penyakit seseorang!!”

“Mian, taeyeon-shi. Ini semua diluar kuasa saya. Kita hanya bisa berserah kepada tuhan-”

Tanpa peduli perkataan dokter itu belum selesai. Ia dengan tergesa pergi begitu saja kedalam ruangan boa eonnie.

“Eonnie!” Lagi-lagi tangis itu pecah. Taeyeon memeluk boa, menumpahkan tangisnya di dada wanita itu. Boa tersenyum lemah. Ia mengusap pelan kepala taeyeon untuk menenangkannya.

“Sstt Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi cengeng seperti ini?” Lirih boa sambil terkekeh pelan. Membuat taeyeon mengangkat kepalanya.

“Ini semua gara-gara kau, eonnie!!”

“Wae? Kenapa jadi aku?” Ujar boa tersenyum lebih lebar.

“Tentu saja kau!! Karena kau terbaring disini. Apa lagi dengan kejadian tadi, kau membuat jantungku hampir keluar eonnie” Ujar taeyeon cemberut.

“Ingat umurmu. Heol.. Jangankan cepat pulang, bisa sembuh saja itu bagaikan mimpi untukku”

“Wae? Kenapa kau bicara seperti itu? Kau membuatku sedih” Taeyeon cemberut.

“Aku tahu jika dokter sudah menyerah denganku” Ujar boa membuat taeyeon terdiam.

“Jika aku pergi nanti, tolong kau jaga oppa dan yuri. Anggaplah yuri sebagai anakmu sendiri. Jangan melarang oppamu jika dia ingin menikah lagi karena aku tidak keberatan untuk itu. Apa lagi ya? Ah jangan terlalu sering makan es krim-”

“Yayaya! Chamkaman chamkaman. Kenapa kau bicara seolah-olah kau akan pergi eonnie. Sudah ku bilang kau akan sembuh. Dan lagi.. Aku tidak mau punya anak seperti yuri. Jail, hitam,-”

Plakk

“Aww”

“Sembarangan bicara!”

“Aku hanya bicara kenyataan. Dan jangan berani lagi mengatakan hal-hal aneh seolah-olah kau akan pergi eonnie. Aku tidak suka”

“Arra.. Sini, peluk aku” Dengan cepat taeyeon memeluk boa. Memeluknya dengan hati-hati karena ia takut menyakiti boa.

“Aahh satu lagi. Jangan biarkan yuri bersedih, eoh? Apa lagi sampai menangis-”

“Yayaya Kau mulai lagi, eonnie~”

“Hahaa mian mian”

“Kau terlalu banyak bicara untuk orang yang sedang sakit, eonnie”

Brakk

“Ya!! Kim taeyeon!!”

“Kamjagiya.. Ya!! Lee sunkyu Apa yang kau lakukan!!?”  

“Menurutmu apa?”

“Masuk sembarangan kedalam ruanganku. Memukul meja dihadapanku dengan keras. Terakhir kau berteriak dengan suara yang bisa membuat ku tuli. Apa kau sudah lupa cara mengetuk pintu, hah!?” Ujar taeyeon panjang lebar.

Plakk

“Aww”

“Ya! ini semua bukan salahku, tapi salahmu. Apa kau lupa memasang telingamu, hah!? Aku sudah dari tadi mengetuk tapi kau diam saja. Dan apa yang aku lihat setelah aku masuk? Aku melihatmu melamun”

“Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tetap diam. Ya sudah, terjadilah hal tadi. Apa yang kau fikirkan? Tumben sekali aku melihatmu melamun”

“Kalimatmu terlalu panjang sunny-ah. Aku sampai bingung mencernanya”

“Itu karena kau memang bodoh” Cibir sunny.

“Yak!! Enak saja mengataiku bodoh! Kalau aku bodoh, mana mungkin aku memimpin perusahaan ini!”

“Sepertinya mereka salah cari pemimpin”

“Heol.. Aku malas berdebat denganmu. Aku pergi”

“Oddiga?”

Meeting” Singkat taeyeon yang segera membereskan barang-barangnya.

Meeting diluar lagi?”

“Ne”

“Sepertinya kau harus memberikan kesempatan untuk mereka”

“Akan ku fikirkan” Ujar taeyeon dengan tawa ahjjumanya sebelum hilang dari balik pintu ruangan itu.

***

“Maaf, aku sedikit terlambat” Ujar taeyeon sambil membungkuk sebelum duduk didepan klien-nya.

“Kau harus membayar makan siang kita nanti atas keterlambatanmu” Ujarnya sambil tertawa kecil. Taeyeon yang mendengarnya juga ikut tertawa.

“Hahaa Arraseo arraseo. Nona?”

“Seolhyun” Ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

“Taeyeon” Uluran tangan itu disambut baik oleh taeyeon.

“Hm jadi.. Apa kita akan memesan makanan atau mulai dengan pekerjaan dulu?” Lanjut taeyeon.

“Sebaiknya kita mulai dari pekerjaan”

“Baiklah”

Taeyeon memberikan sebuah map pada seolhyun. Ia mulai menjelaskan tiap helai kertas yang ada didalam map itu. Ia menjelaskan secara rinci bahkan sebelum seolhyun mempertanyakannya. Seolhyun sangat kagum dengan cara persentasi taeyeon. Taeyeon sangat berwibawa dalam setiap penyampaian-nya.

“Heii” Taeyeon menjentikan jarinya didepan wajah seolhyun.

“eoh?”

“Apa kau mendengar penjelasanku? Tampaknya kau melamun. Apa kau terpesona olehku?”

“Hahaa aku tak menyangka jika pemimpin dari perusahaan milik keluarga kim seperti ini”

“Kau orang kedua yang mengatakan itu hari ini. Dan apa maksud dari seperti ini?”

“Hahaa tenang saja. Beberapa diantaranya adalah hal baik”

“Baiklah. Jadi bagaimana?”

“Kau terlalu terburu-buru. Aku suka dengan idemu. Penyampaianmu juga bagus. Bahkan aku tak tau harus bertanya apa lagi. Kau sudah menjelaskannya dengan rinci” Ujar Seolhyun lalu berhenti sejenak membuat taeyeon penasaran.

“Lalu?” Tanya taeyeon lagi, membuat seolhyun tersenyum.

“Kita bisa menandatangani kontraknya minggu depan” Jawaban itu membuat taeyeon tersenyum lebar.

“Senang bekerja sama dengan mu seolhyun-shi”

“Aku pun begitu taeyeon-shi”

“Baiklah, sekarang pesanlah apapun yang kau mau. Aku sudah berjanji mentraktirmu tadi”

“Kau akan menyesal telah mentraktirku. Porsi makanku, kau akan terkejut melihatnya” Ujar seolhyun sambil membolak-balik buku menu itu.

“Hahaa kau jujur sekali. Tak apa, aku mempunyai banyak uang”Ujar taeyeon dengan gaya sombongnya membuat seolhyun tertawa.

***

“Tck. Kenapa orang tua itu memberi tugas sangat banyak?” Ujar tiffany cemberut.

“Jika kau tak ingin mendapatkan tugas, sebaiknya kau tidur saja seharian dirumah. Jangan datang lagi ke kampus”

“Saranmu sama sekali tidak membantu, jessie” Ujar tiffany. Jessica hanya menangangkat bahunya.

“Apa kau melihat yuri?”

“Aku tidak melihatnya. Semenjak pulang dari villa sunny eonnie aku belum bertemu dengannya. Ponselnya juga tidak aktif, kemana dia?” Ujar tiffany.

Kemana anak itu?’

“Disana!! Hyoyeon. Bukankah dia salah satu teman yuri” Tunjuk jessica.

“Kajja” Tiffany segera menarik tangan jessica. Hingga kini mereka berdiri dihadapan gadis berambut pirang itu.

“Permisi. Hyoyeon?”

“Ne”

“Apa kau melihat yuri?”

“Ani. Sudah tiga hari dia tidak masuk”

“Tiga hari!?”

“Ne. Jika kalian bertemu dengannya, tolong katakan aku meminta bukuku yang dipinjammya”

“Aah arraseo”

“Dimana dia? Bagaimana kalau kita kerumahnya saja nanti?” Ujar tiffany

“Mian. Aku ada janji dengan krystal”

“Baiklah. Kalau begitu aku akan kesana sendiri”

***

Ceklek

“Tiffany?”

“Annyeong ahjjusi” Ujar tiffany sambil membungkuk hormat pada jiwoong.

“Annyeong fany-ah. Apa kabarmu? Sudah lama kau tidak main kesini” Ujar jiwoong sambil terkekeh.

“Ne, ahjjusi. Hehee kau tau? Tugas kami semakin banyak” Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Hahaa arraseo arraseo. Aah kau ingin menemui yuri, bukan? Dia ada dikamarnya, masuk saja”

“Ne, ahjjusi. Apa dia baik-baik saja?”

“Ahh dia hanya sedang tidak enak badan”

“Hmm baiklah. Kalau begitu aku akan menemuinya dulu, ahjjusi”

.

.

.

Ceklek

Appa~ Aku akan memakannya nanti” Ujar yuri dari balik selimutnya. Tiffany medekat dan duduk di tepi kasur, tepat dihadapan yuri.

“Ya!! Appa apa yang kau laku-” Tiffany membuka selimut yang menutupi tubuh yuri. Yuri kaget mendapati tiffany duduk dihadapannya.

Screenshot_2017-05-01-13-11-48[1]

“Fany-ah, kau?”

“Ne, ini aku. Bagaimana mungkin kau menyamakanku dengan ahjjusi” Ujar tiffany cemberut.

“Apa yang kau lakukan disini?” Yuri menatap datar tiffany. Tiffany mengerutkan dahinya. Melihat sikap aneh yuri.

“Ada apa denganmu, yul?” Ujar tiffany menatap serius yuri.

“Tck.. Ada apa dengan semua orang? Ada apa denganmu, Ada apa denganmu. Memangnya ada apa denganku?” Ujar yuri terkekeh.

“Karena semua menghawatirkanmu!! Kau jadi aneh, yul!!”

“Aneh? Aneh apanya fany-ah?” Ujar yuri tanpa menatap tiffany.

“Kau belum pernah bersikap seperti ini sebelumnya”

“Berarti kau belum mengenalku dengan baik, fany-ah” Lagi-lagi yuri terkekeh diakhir kalimatnya.

“Yul!!” Tiffany menatap tak percaya kearah yuri. Bagaimana mungkin ia berkata seperti itu. Bahkan mereka sudah saling mengenal untuk waktu yang cukup lama.

“Wae?” Yuri seolah tak peduli dengan percakapan mereka.

“Aku seperti tidak mengenalmu yul!!” Ujar tiffany beranjak. Melangkah keluar. Saat didepan pintu tiffany menoleh untuk melihat yuri sebentar. Melihat yuri yang hanya terdiam membuat tiffany tambah kesal dan melanjutkan langkahnya.

Blamm!!

‘Ini salah’

Yuri mengusap kasar wajahnya. Ia membuang nafas kasar. Menyesali apa yang baru saja ia lakukan.

Aiishh.. Apa yang aku lakukan!? Kenapa aku jadi marah padanya!? Ini bukan salahnya. Jika seperti ini aku benar-benar akan kehilangannya. Aku harus mengejarnya”

.

.

“Ishh Ada apa dengannya!? Aku kan hanya ingin melihat keadaannya. Kenapa sikapnya malah seperti itu. Apa dia terkena virus jessica? Dingin sekali” Gerutu tiffany .

Grab

“Haah.. hah.. Chamkaman hahh..” Ujar yuri terengah-engah.

“Lepaskan!” Tiffany menyentak tangan yuri yang menggenggam tangannya. Ia berbalik berjalan kearah mobilnya yang terparkir dihalaman yang luas itu.

“Ya~ Chamkaman” Yuri memegang pergelangan tangan tiffany.

“Mwo?”

“Apa kau marah?”

“Tidak. Untuk apa marah” Ujar tiffany ketus sambil berusaha melepaskan genggaman yuri pada pergelangan tangannya.

“Kalau tidak marah, kenapa ketus sekali?” Ujar yuri tersenyum. Senyum yang menyebalkan untuk tiffany. Bagaimana mungkin dia tersenyum setelah apa yang terjadi beberapa menit lalu.

“Tidak tahu!! Pikir saja sendiri!!”

“Aku terlalu malas untuk berfikir hehee. Bagaimana jika kita lupakan hal yang tadi?”

“…”

“Ayolah~ Maafkan aku”

“Ini pertama kalinya kau bersikap seperti itu padaku, yul. Belum mengenalku dengan baik, Apa maksudmu dengan itu? Bukankah aku sahabatmu? Apa ada yang kau tutupi dariku!?”

“Huft.. Jeongmal mianhae, fany-ah. Aku tahu aku salah dan aku berjanji aku tidak akan mengulanginya lagi, janji. Aku.. aku hanya sedang memikirkan beberapa hal” Tiffany melihat ketulusan dalam setiap kalimat yuri.

“Lalu apa gunanya aku dan jessica, yul? Kau bisa berbagi cerita dengan kami. Apa masalahmu?”

“Tak apa aku bisa mengatasinya, kau tidak perlu kuatir” Ujar yuri dengan senyumnya.

“Lihatlah, kau bahkan tidak mau memberi tahuku. Apa aku ini untukmu, yul?” Ujar tiffany yang menatap yuri dengan tatapan kecewanya.

“Kau.. kau.. Tantu saja kau sahabat terbaikku, adikku”

“Aku mulai benci dengan senyumanmu itu, yul” Ujar tiffany cemberut.

“Hahaa ada apa denganmu? Baiklah, kalau begitu aku tidak akan tersenyum lagi” Ujar yuri datar.

“Ya!! Tidak seperti itu juga, pabo!!”

“Aww aw. Aish.. nenek sihir sudah kembali” Lirihnya.

“Mwo!!?”

Tinn

Tinn

Nugu?” Tanya tiffany yang melihat satu mobil masuk pekarangan rumah yuri.

“Tidak tahu. Aku belum pernah melihat mobilnya” Disanalah mereka melihat taeyeon turun dari mobil mewah itu. Diikuti dengan seorang wanita yang keluar dari sisi lain.

“Imo?”

“Taeyeon eonnie?” Yuri melihat tiffany yang tengah tersenyum. Senyum yang berbeda saat bersamanya. Rasanya ia masih belum siap untuk melihat lagi kedekatan taeyeon dan tiffany.

Disisi lain taeyeon menghampiri seolhyun yang juga turun dari mobil mewahnya. Taeyeon tidak membawa mobilnya sehingga seolhyun menawarkan untuk mengantarnya. Terlihat senyum mengembang diwajah keduanya. Ia banyak mengobrol dengan taeyeon selama diperjalanan. Menurutnya taeyeon sangat menyenangkan.

“Gomawo seolhyun-shi”

“Bukan hal yang besar. Bisakah kita bicara lebih santai?”

“Tentu. Hm sepertinya aku harus mentraktirmu lagi atas kebaikanmu ini”

“Terdengar menarik” Ujar seolhyun, lalu mereka tertawa bersama. Entah apa mereka sadar ada yang menatap mereka dengan tatapan cemburu.

“Kalau begitu aku permisi, taeyeon-ah”

“Chamkaman”

“Ne?” Taeyeon membuka jas yang ia kenakan. Memakaikannya pada seolhyun.

“Cuaca dingin. Kenapa tidak memakai baju yang lebih tebal” Ujar taeyeon membuat seolhyun terkekeh.

“Sepertinya kau memang harus mentraktirku”

“Hm?”

“Bagaimana aku bisa mengembalikannya jika kita tidak bertemu. Aku pergi, gomawo”

“Bukan hal yang besar” Ujar taeyeon meniru gaya seolhyun.

screenshot_2017-05-01-13-03-551.jpg

Lagi-lagi seolhyun tertawa melihat sikap taeyeon. Dia sangat menyenangkan diajak bicara. Taeyeon selalu bisa membuatnya tertawa dengan kalimat-kalimat konyol yang dilontarkannya. Seolhyun melajukan mobilnya hingga tak tampak lagi.

Disana tiffany menatap mereka dengan tatapan tak suka. Tiffany tidak suka melihat taeyeon tertawa dengan gadis itu. Tiffany tidak suka cara gadis itu bicara dengan taeyeon. Tiffany tidak suka melihat tatapan gadis itu pada taeyeon. Keningnya mengerut melihat taeyeon memberikan jasnya pada gadis itu.

Jangan terlalu senang, nona. Dia juga pernah melakukannya padaku!”

Hei.. Apa yang kalian lakukan diluar?” Ujar taeyeon yang berjalan mendekati keduanya.

“Aah imo, ani. Hanya membicarakan beberapa hal” Ujar yuri mencoba tersenyum tenang.

“Kenapa tidak didalam?” Tanya taeyeon lagi.

“Tidak usah eonnie. Aku akan pulang, sudah malam” Ujar tiffany dengan senyum tipisnya. Mood-nya benar-benar buruk melihat kedekatan taeyeon dengan wanita tadi.

“Aah arraseo, hati-hati dijalan. Aku masuk dulu” Tiffany menatap punggung taeyeon hingga hilang dibalik pintu masuk yang besar itu. Ia merasa kecewa. Taeyeon seakan lupa dengan apa yang mereka lakukan beberapa hari lalu. Sikapnya biasa saja saat menemui tiffany, bahkan terkesan cuek.

“Wae tiff?” Yuri menyentuh pundak tiffany membuatnya sedikit terkejut.

“Aah ani”

“Yul. Apa.. apa kau tahu siapa wanita tadi?”

‘Apa kau cemburu, tiff?’

“Aku belum pernah melihatnnya. Wae?”

“Aah ani”

“Imo belum pernah membawa orang lain selain sunny dan sooyoung eonnie” Yuri melihat raut kekecewaan di wajah tiffany.

“Apa kau.. cemburu?” Yuri tidak dapat menahan dirinya untuk tak bertanya.

“A.ani” Ujar tiffany menunduk.

“Apa kau benar-benar menyukainya, tiff?” Tanya yuri dengan serius.

“Aku.. Pada awalnya aku ragu. Tapi sekarang aku yakin yul. Aku menyukainya ani.. aku mencintainya. Aku mencintai taeyeon eonnie” Ujar tiffany mengangkat kepalanya dan menatap yuri dengan sungguh-sungguh. Yuri merasakan sesak didadanya. Mendengar hal itu langsung dari mulut tiffany adalah hal yang paling menyakitkan.

“Geurae” Lirihnya.

“Menurutmu bagaimana, yul?”

“Mwo?”

“Menurutmu bagaimana aku dengan taeyeon eonnie”

“Jika.. jika kalian saling mencintai lalu apa salahnya? Aku fikir juga tak begitu buruk jika kita jadi keluarga. Aku akan memanggilmu ahjjumna” Ujar yuri dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Aku bahkan sudah memikirkan kau akan melakukan itu, yul. Tapi tak apa, itu bukan masalah yang besar. Ya sudah , aku pulang dulu. Bye, yul”

Chu~

‘Kau bahkan sudah memikirkan sejauh itu tiff”

Dibalik tirai itu taeyeon menatap mereka dengan senyum tipisnya.

Lebih baik seperti ini, pany-ah’

screenshot_2017-05-01-13-04-051.jpg

***

“Boo!!”

“Yak!! Kim taeyeon!!” Sunny yang tengah bermain dengan ponselnya dikejutkan oleh taeyeon yang mengendap-endap masuk ke dalam ruangannya.

“Itu untuk yang kemarin” Ujarnya cuek. Taeyeon duduk disalah satu sofa yang tak jauh dari meja sunny.

“Neo jinjja!!” Tunjuk sunny padanya.

“Ya!! Kau tidak sopan dengan atasanmu” Taeyeon menatapnya tajam.

“Sekarang jam pulang, kau bukan atasanku” Cibir sunny.

“Kenapa kau selalu menjawab?” Kesal taeyeon sedangkan sunny hanya mengangkat bahunya.

“Kemarin aku ke apertemenmu. Kau tidak ada” Ujar sunny.

“Aku pulang kerumah”

“Tidak biasanya”

“Ada beberapa hal yang aku bicarakan dengan oppa, tentang kontrak baru. Ya!! Apa maksudmu dengan tidak biasanya, itu juga rumahku” Ujar taeyeon sambil cemberut.

“Bagaimana dengan pertemuan kemarin?” Ujar sunny tanpa mempedulikan rengekan taeyeon.

“Aku KIM TAEYEON, tentu saja semua berjalan lancar” Ujar taeyeon dengan seringainya.

“Cih” Sunny memutar bola matanya.

“Kau akan pulang?” Taeyeon melihat sunny merapikan barang-barangnya.

“Tentu saja. Kau pikir aku mau bermalam disini”

“Aku-”

Ceklek

Eonnie”

“!!”

“Masuklah, tiff. Sebentar, aku merapikan barang-barangku dulu”

“Ne, eonnie” Tiffany dengan ragu masuk kedalam ruangan itu. Melihat taeyeon yang duduk diam disana, membuatnya gugup. Taeyeon hanya diam, bahkan tidak menyapanya. Tidak seperti biasanya.

Ada apa dengannya?’

“Duduklah disana, tiff” Ujar sunny menunjuk kearah sofa tempat dimana taeyeon duduk.

“Hmm Aku permisi dulu” Saat tiffany mendekat taeyeon bangkit dari duduknya.

“Ne? Apa kau tak turun bersama kami?”

“Mian, aku terburu-buru”

“Tck.. memang kau mau kemana?”

“Kencan” Ujar taeyeon singkat lalu hilang dibalik pintu itu.

“Mwo? Kencan? Dengan siapa?” Lirih sunny.

Satu kata yang membuat tiffany terdiam.

Kencan? Apa dengan wanita yang kemarin?’

Tiff?”

“A.aah ne, eonnie?”

“Kau melamun?”

“Aah, tidak. Apa eonnie sudah selesai berkemas?”

“Ne”

“Kajja”

***

Jessica dan yuri menatap tiffany yang dari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya. Hari ini tiffany tidak seperti biasanya. Ia lebih banyak diam.

“Tiff?”

“Eoh? Wae?” Ujar tiffany tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.

“Ya!! Lihat kami jika bicara”

“Wae, jessie?” Jawabnya dengan lesu. Kali ini tiffany mengangkat kepalanya. Menatap kedua sahabatnya itu.

“Seharusnya kami yang bertanya. Ada apa denganmu, fany-ah?” Ujar yuri.

“Aishh” Kesalnya

“Kau gila tiff”

“Aku memang sudah gila, jessie”

“Ada apa? Katakan pada kami. Apa kau lupa dengan apa yang pernah kau katakan tentang berbagi masalah” Ujar yuri.

“Yul, apa.. apa taeyeon eonnie mempunyai kekasih?” Pertanyaan itu membuat yuri tersenyum miris.

Jadi dia penyebabnya’

Yul?”

“Ne? Aah itu aku tidak tau. Tapi aku rasa tidak ada. Wae?”

”Ani. Kemarin aku kekantor sunny eonnie. Saat aku baru datang dia malah pergi begitu saja. Dia bilang terburu-buru. Kau tahu, kencan!!? Entahlah, aku rasa akhir-akhir ini dia menghindariku”

“Kenapa kau berfikiran seperti itu, tiff?”

“Aku merasakannya, jessie. Ada yang berbeda saat kami bertemu” Ujar tiffany sambil cemberut.

“Jika itu mengganggumu, lebih baik kau menanyakan langsung padanya” Ujar yuri membuat jessica menoleh padanya.

“Begitukah?”

“Ne.. Aku tidak ingin kehilangan nenek sihirku yang digantikan oleh seorang gadis yang pemurung”

Plakk

Aww” Tiffany menghadiahkan satu pukulan tepat dikepala yuri.

“Rasakan” Cibirnya.

“Heol.. Kau sudah kembali jadi tiffany yang aku kenal” Ujar yuri terkekeh.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menemui taeyeon eonnie”

***

Tiffany POV

Tadi aku pergi ke kantor sunny eonnie. Tapi aku tak dapat menemui taeyeon eonnie disana. Sunny eonnie bilang kalau taeyeon eonnie tidak masuk kantor hari ini. Ia sedang tidak enak badan. Karena itu aku meminta alamat apartemen taeyeon eonnie pada sunny eonnie.

Aku tidak mengerti kenapa taeyeon eonnie menjauhiku. Aku harus menanyakannya padanya. Aku harus mendengar langsung dari mulutnya. Ini dia apartemen taeyeon eonnie.

Ceklek

“Pany-ah?” Tampaknya taeyeon eonnie terkejut karena kedatanganku kesini.

“Aku dengar dari sunny eonnie kau sakit. Jadi aku ingin melihatmu kesini”

“Ohh geurae. Masuklah”

Tiffany POV end

Taeyeon menyingkir dari pintu membiarkan tiffany masuk.

“Duduklah dulu, aku akan membuatkan minuman untukmu” Tiffany memegang pergelangan taeyeon, menghentikan pergerakannya.

“Tidak usah eonnie. Kau sedang sakit, duduk saja” Taeyeon melihat kearah dimana tiffany memegang pergelangan tangannya. Tiffany yang melihat arah tatapan taeyeon segera melepaskan tangannya.

“Mian”

“Gwencanha, duduklah” Tiffany sedikit kecewa karena taeyeon mengambil tempat duduk yang jauh darinya.

“Apa eonnie baik-baik saja?”

“Hanya tidak enak badan biasa” Ujar taeyeon yang menatap kebawah. Tiffany merasa taeyeon menghindari kontak mata dengannya.

“Eoh”

Ayo tiffany. Tanyakan sekarang’

“Eonnie. Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Tanyakan saja”

“Apa kau sedang menghindariku?” Taeyeon yang mendengar itu mengangkat kepalanya menatap tiffany. Sebelum mengalihkannya lagi. Entah mengapa ia tak sanggup menatap kedua bola mata itu.

“Kenapa kau berfikir seperti itu?”

“Kau bahkan tak melihat kearahku sekarang. Ada apa?”

“Ahh mungkin karena aku sedang tidak enak badan. Jadi aku sedikit berbeda” Taeyeon kini menatapnya. Tak ingin menambah kecurigaan tiffany.

“Jinjja?”

“Ne. Hanya perasaanmu saja” Ujar taeyeon dengan senyum tipisnya.

“Malam itu.. apa kau masih ingat?” Ujar tiffany ragu-ragu. Ia tidak bisa terus begini. Bahkan dia masih merasakan bibir manis taeyeon dibibirnya.

“!!” Pertanyaan ini yang ingin dihindari taeyeon. Ia mencoba untuk bersikap tenang.

“Malam? Saat kau berada dirumah yuri?”

“Ani-”

Ting Tong

Ting Tong

“Ahh chamkaman pany-ah” Taeyeon beranjak untuk membukakan pintu.

Apa taeyeon eonnie melupakannya?’ Lamunan tiffany buyar melihat taeyeon masuk dengan seseorang dibelakangnya.

‘Dia!!?’

“Eum.. Apa aku mengganggu? Sepertinya kau kedatangan tamu”

“Tentu saja tidak seolhyun-ah”

“Nugu?” Tunjuk seolhyun pada tiffany.

“Dia sahabat yuri, keponakanku” Ujar taeyeon tersenyum pada seolhyun.

Degg degg

Mian eonnie. Aku permisi dulu” Tiffany mengambil tas nya dan pergi begitu saja meninggalkan seolhyun yang menatapnya heran.

“Kenapa terburu-buru?”

“Hmm ini sudah malam eonnie, annyeong”

“Ne, hati-hati dijalan” Ujar taeyeon dengan memaksakan sebuah senyuman.

Gwaenchana, hanya sebentar lagi’

Screenshot_2017-05-16-19-18-24[1]

Sementara itu tiffany keluar dari sana dengan tergesa. Dadanya sesak. Matanya mulai memanas. Ia hanya tak ingin taeyeon melihatnya. Saat didepan lift, akhirnya air mata yang ditahan-tahannya itu jatuh.

“Hiks.. Wae? Apa aku hanya sebatas sahabat yuri untuknya? Lalu kenapa dia melakukan itu padaku? Kenapa dia menciumku? hiks..”

***

“Pany-ah!?” Yuri membukakan pintu dan menemukan tiffany dengan mata sembabnya disana.

“Yul. Aku.. aku” Tiffany mencoba menahan tangisnya. Tapi tetap saja suaranya bergetar.

“Masuklah dulu” Yuri yang melihat mata itu mulai berkaca-kaca segera merangkul tiffany menuju kamarnya.

“Tunggu disini” Yuri menuntun tiffany duduk ditepi kasurnya dan bergegas keluar meninggalkan tiffany dengan tatapan kosongnya.

“Heii.. Kau melamun?” Tiffany tersentak melihat yuri sudah ada dihadapannya dengan secangkir coklat panas ditangannya.

“A..ani”

“Ini, minumlah” Yuri menyodorkan coklat panas itu didepan tiffany. Namun tiffany hanya menatapnya.

“Wae? Tenang saja, aku tidak memasukkan racun kedalammya” Ujar yuri terkekeh. Membuat tiffany tersenyum kecil.

“Aigoo. Kau tersenyum seperti itu saja sudah sangat cantik. Bagaimana jika kau tersenyum seperti biasanya. Mungkin aku akan pingsan detik itu juga” Lebih kurangnya yuri telah membuat suasana hati tiffany sedikit membaik.

“Gomawo”

“Gwaenchana” Yuri beralih duduk kesebelah tiffany. Suasana jadi hening.

“Apa sekarang rasanya sudah berubah? Biasanya jika aku membuatkan coklat panas, kau akan langsung menghabiskannya” Ujar yuri yang melihat tiffany meminumnya hanya sedikit.

“Kenapa kau tidak bertanya, yul?”

“Mwo?” Bingung yuri

“Kenapa aku seperti ini?” Jelas tiffany.

“Aku ingin kau tenang dulu. Setelah itu, jika kau ingin cerita denganku.. itu lebih bagus” Ujar yuri tersenyum membuat tiffany juga ikut tersenyum.

“Aku rasa aku terlalu percaya diri. Aku fikir dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku, yul. Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ini yang pertama. Aku terpesona saat pertama bertemu dengannya. Takdir mempertemukan kami lagi kantor sunny eonnie.” Tiffany berhenti sejenak. Sedangkan yuri yang mendengar itu menggigit bibir bawahnya.

‘Lagi-lagi dia yang membuatmu seperti ini fany-ah’

Lagi-lagi takdir mempertemukan kami di acara anniversary sunny eonnie dan sooyoung eonnie. Sampai kita pergi ke villa. Pertama kali aku merasa hal yang berbeda. Pertama kalinya aku menginjak dapur untuk memasak. Pertama kalinya aku bersenang -senang ditempat yang ramai. Duduk direrumputan melihat kembang api. Hiks.. aku.. aku.. ottokhae, yul?” Yuri segera merangkul tiffany. Mengusap bahu tiffany yang mulai bergetar.

“Jika dia tidak mempunyai perasaan lebih, kenapa dia melakukannya denganku?” Yuri yang mendengar itu menutup matanya. Salah satu tangannya mengepal.

“Dia berubah. Saat kami bertemu dia mengabaikanku hiks.. Seenaknya mengatakan akan pergi kencan didepanku. Hiks.. Tadi aku keapartemennya, dia bersikap dingin padaku, yul hiks.. Apa semudah itu melupakan kebersamaan kita saat divilla? Dan wanita itu.. wanita itu juga ada disana. Appo yul.. appo hiks.. Dia tersenyum lebar saat wanita itu datang. Berbeda saat kedatanganku hiks..”

“Apa kau begitu mencintainya, fany-ah?” Tiffany hanya menganggukan kepalanya dipelukan yuri.

“Aku mencintainya, yul. Sangat mencintainya hiks.. Tapi kenapa.. kenapa rasanya sesakit ini. Rasanya baru kemarin aku merasa sangat.. aku hiks-”

“Geumanhae!! Geumanhae, fany-ah!! Jebal geumanhae!! Kau akan tersakiti disini, jadi berhentilah!! Aku tak suka melihatmu bersedih” Yul mencengkram kedua pundak tiffany.

“Yul?” Tiffany terkejut melihat mata yuri yang mulai berkaca-kaca.

“Wae, fany-ah? Wae!!? Kenapa harus dia!!? Ada banyak orang diluar sana yang akan menerimamu!! Kenapa dia, fany-ah? Wae?” Air mata itu telah lolos. Ia tak bisa menahan nya lagi. Semuanya.

“Tapi yul, aku mencin-”

“Persetan dengan mencintainya!! Itu tidak cinta.. tidak cinta. Kau hanya mengaguminya, fany-ah. Hanya rasa kagum. Kau akan terluka, lebih baik kau berhenti, fany-ah”

“Kau ingat saat aku mengatakan aku akan melindungimu?” Tiffany hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Itu masih berlaku sampai sekarang. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka, fany-ah”

“Gomawo, yul” Yuri kembali memeluk tiffany. Ia menumpahkan tangisannya dipelukan yuri. Yuri mengelus punggung tiffany. Berharap dapat menenangkannya. Cukup lama mereka terdiam dengan posisi seperti itu. Hingga isak tangis tiffany tak terdengar lagi.

“Apa kau masih ingat saat pertama kali kita bertemu? Saat itu aku menangis sendirian dimakam eomma. Lalu ada seorang gadis kecil menghampiriku. Ia memberiku sapu tangan. Mengatakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semua orang akan pergi tapi mereka akan tetap dihati kita”

“Semenjak itu aku ingin dekat dengan gadis itu. Aku ingin melindunginya. Aku berjanji akan menjaganya. Dari apapun itu. Hingga kami tumbuh dewasa bersama. Dan akhirnya dia jatuh cinta. Dan sebenarnya aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tak ingin dia terluka” Yuri menangkup pipi tiffany. Mengusap air mata yang kembali jatuh itu.

“Sekarang dia menangis dihadapanku. Aku tidak pernah melihatnya sekacau ini. Aku tidak pernah menemuinya seputus asa ini. Aku tak suka melihat air matanya mengalir”

“Yul”

“Tidak.. tidak fany-ah. Jangan menangis lagi”

“Gomawo. Jeongmal gomawo, yul”

***

Tiffany kini telah berada digedung besar itu. Bukan, bukan untuk menemui sunny. Ia ingin menemui seseorang yang mengganggu fikirannya akhir-akhir ini. Ia ingin mendapatkan jawaban yang jelas dan pasti dari seseorang. Ia ingin menemui taeyeon.

Tokk Tokk

“Masuk” Mendengar suara dibalik pintu itu membuat tiffany gugup. Sejenak dia mempersiapkan diri untuk bertemu dengan gadis itu lagi.

Ceklek

“Kau sudah membawa-”

“Ini aku”

“Aah tiffany. Duduklah. Kau ingin minum apa?” Taeyeon mengangkat ganggang teleponnya.

“Tidak usah, eonnie” Taeyeon meletakan kembali ganggang telpon itu.

“Jadi.. ada apa?” Mendadak tiffany tak tau apa yang ingin dia katakan.

“I.itu.. Pembicaraan kita malam itu”

“Ne?”

“Saat kau mengantarku pulang. Apa kau masih ingat?” Ujar tiffany yang mulai tak sabar.

“Yang mana?”

“Apa kau benar-benar lupa atau kau hanya pura-pura tidak mengingatnya” Ujar tiffany geram. Ia benar-benar kesal dengan jawaban yang didapatnya.

“Apa maksudmu, pany-ah?”

“Biar aku ingatkan lagi” Ujar tiffany sebelum mendekat pada taeyeon. Menarik tengkuknya dan..

CHU~

Bibir itu kembali bertemu untuk kesekian kalinya. Tiffany hanya menempelkannya. Tidak menggerakannya sama sekali. Tak ada nafsu disana. Lagi-lagi keduanya merasakan kembali bibir masing-masing. Bahkan tiffany belum lupa akan rasa bibir lembut taeyeon dibibirnya beberapa hari lahu.

Beberapa saat sebelum tiffany melepasnya. Tiffany membuka matanya, menemukan taeyeon yang menatapnya.  Tampak jelas bahwa taeyeon terkejut dengan ciuman tiba-tiba darinya. Tiffany tak peduli dengan apa yang akan dikatakan taeyeon padanya. Ia hanya ingin jawaban yang jelas.

“Kau sudah ingat?”

“Kau fikir apa yang kau lakukan sekarang?” Lirih taeyeon dengan jarak wajah mereka yang dekat.

“Mengingatkanmu. Bukankah kau lupa?”

“Lalu apa masalahnya?” Ujar taeyeon datar.

“Apa masalahnya!?” Tiffany menatap tak percaya taeyeon.

“Ne, mwo?”

“Kenapa kau melakukannya padaku?” Liirih tiffany. Ia mencoba mengendalikan dirinya untuk tetap tenang.

“Ciuman itu? Apa yang fikirkan tentang itu? Itu hanya sebuah ciuman”

“Hanya sebuah ciuman!?”

“Ne, memangnya apa yang kau harapkan dengan sebuah ciuman?” Tiffany terdiam mendengar ucapan taeyeon. Apa dia terlalu kuno? Sehingga berfikir sebuah ciuman adalah suatu yang sakral.

“Ne, kau memang benar. Apa yang harus aku harapkan dari sebuah ciuman? Pabo” Lirih tiffany sambil tersenyum miris. Taeyeon yang mendengar itu menggigit bibir bawahnya.

“Kau sudah selesai? Hari ini aku sedikit sibuk” Ujar taeyeon membuat tiffany terkekeh.

“Aku sudah selesai. Terimakasih dan maaf telah menggangu waktumu” Tiffany mengambil tasnya dan pergi begitu saja.

Blamm

Tiffany membanting pintu itu cukup keras. Setelah kepergian tiffany, taeyeon terdiam disana. Ia mengepalkan tangannya. Matanya berkaca-kaca. Dia merasa jahat. Tapi dia juga tak tahu harus melakukan apa.

Mianhae. Jeongmal mianhae, pany-ah. Aku tidak bisa bersaing dengan yul’

screenshot_2017-05-26-23-39-011.jpg

.

.

.

Tbc

Gimana gimana? Yulti aja? Apa masih pengen taeny? Huahaha diamuk LS gue…

THANKS TO ETERNITY HAPPINESS

papaayy

Advertisements

53 thoughts on “L.O.V.E (4)

  1. Wooo.. Kalo taeny kesian yuri,, kali yulti
    Tae nya kesiann.. Ud ah aku bungkus bawa pulang aja, cabe nya 5 ya😌

    “Terkadang begitulah cinta deritanya tiada akhir” pat kai quotes

    Liked by 1 person

  2. Taeny yulsic ajah, kk gak ada momen yulsic ya ahahahah, di part ini kasian semua yuri kasian taeng kasian tipan juga kasian ahahahah

    Like

  3. Huhuhu kasian kenapa jadi rumit. Kalau taeny jadian ksian si yul, Tapi kalau taeny gak jadian kasian mereka saling memendam perasaan.

    Kalau udah gini, Misalkan aku berharap ending yulti kayanya gak mungkin ya thoor 😑 Lanjut aja thoor 😊😊

    Like

  4. Hah nyesek liatin tae mesti ngalah ama yul thor 😢 yang pasti aku pengennya sih balik ke pasangan masing2 thor .. Rasa ny gak rela aja gitu kalau seandainya yulti jadian wkwkwkwk… 😂

    Btw .. Cepetan update ya thor .. Jadi ga sabar liat kelanjutannya hehehe😂
    #semangatterusyathorr💪

    Like

  5. Lahh,,kok ngenes tae saingan ama ponakan,, thor tega bener ksian fany sakit banget tuh, udh ciuman pertama ilang, coba dilupain pula ama tae. Keduanya jd sama2 sakit kan,, yah,,jangan2 author buat yulti, ksian taengsic thor, dua yang sedih. Bagusnya taeny aja, yang sedih kan jd cuma yul, dtg jessy juga sembuh. Hehe,, 😀

    Like

  6. Semuanya ksihan, taeng yul sica fany smuanya tersakiti, taeny dan yulsic aja biar nggak ada yg tersakiti lgi 😂😂.
    Iya nich part yulsic nya nggak ada

    Like

  7. Pengen taeny, tapi kasian sama yul.. pengen yulti kasian sama tae dgn jessi.. jadi lebih baik taeny ajalah setidaknya yg sakit ati cuma yul hhaha

    Like

  8. Duh si bocah sok2 dingin. Jahat banget km Tae! Cm krn tdk mau bersaing dgn Yuri trs nyakitin orang yg km cintai dan diri sendiri. Dasar Tae pabo!!!!!!!!!!

    Like

  9. Syalom, thor aq mau ngasih pendapat bolehkan?

    Jdi gini, apakah mnurut author crita kamu akan membawa kbaikan bgi pembaca dan bgi diri kamu sndiri? Bukankah dngan bacaan sperti ini kamu hanya akan menyakiti Allah/Tuhan.

    Liked by 2 people

    • Hallo Rizky..
      sebagai orang yg mengelola blog ini, aku juga kayanya pengen jawab pertanyaan km deh 🙂

      First of all…. km cowo atau cewe ya?
      udah berapa lama baca ff?
      Seringnya baca ff girlxgirl atau genderbender?
      Kalaupun baca ff girlxgirl aka yg mengusung hal berbau ‘lesbian’ apa km merasa terpengaruh atau terstimulasi sehingga km ingin seperti mereka?

      Maksud aku nanya kaya gtu gada tujuan buruk ko.
      Aku cuma mau tahu apa km mengalami semua hal itu.
      Kalau iya.. maka ff girlxgirl membawa pengaruh yg buruk buat km.
      Aku saranin jangan baca ff kaya begini kalau ke km jadi jelek.

      Aku berbicara disini bukan sebagai author atau pengelola blog ini.
      Tapi sebagai teman km 🙂

      i’d like to say thanks a lot karna km sudah jujur dan berani bilang hal ini ke aku dan penulis lainnya
      Kalau dari aku pribadi sih semua yg ditulis disini pure hanya sebagai hiburan.
      Gada maksud untuk menyebar keburukan.
      Setiap cerita punya moral of story yg berbeda.
      Everyone can relate it dengan cara mereka sendiri.

      Mungkin maksud @vellyaa nulis girlxgirl itu karena beliau ingin membuat cerita yg terasa nyata karena realnya taeyeon dan tiffany itu cewe, beda dengan aku yang mengusung ff genderbender dimana Tiffany selalu jadi perempuannya dan Taeyeon selalu jadi PRIA di cerita aku.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s