Teaser and PW SICK END

Cover SICK

Sick Coming Soon.. .

 

“Yoboseyo?? Aku Kwon Yuri dokter dari rumah sakit jiwa Seoul, pasienku… dia…. Dia melarikan diri dari rumah sakit. Dan aku merasa ia akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Maka dari itu mohon bantuan dari pihak kepolisian untuk mencarinya”

“Ccc..Choi??”

“BRENGSEEEEKK !!!!”

“Bagaimana rasanya huh?? Sakit bukan?? Hahahahhaahahha….”

“Choi Siwon ! kau sudah datang? Duduklah..”

“hahhahahha.. Panny-ah !!! kau melihatnyakan? Aku..aku akan membalaskan dendammu padanya.. hahahhaha…hhhhaha…”

“Nugu?”

PLAAAKK

“Segera kau cari tahu dimana keberadaannya Siwon. Paman merasa dia ada sangkut pautnya dengan kematian temanmu”

“Tolong !! Tolong…!! dompetku, tolong !!”

‘Tunggu Siwon, sebentar lagi giliranmu tiba’

 thumb-1920-180275.jpg

..

 

OKE GUYS, berhubung pada part kali ini terdapat beberapa adegan maupun bahasa yang vulgar maka aku sebagai author yang mengikuti aturan dan norma2 negara mengenai ….cikk ile… #plakk

Langsung aja deh. Part ini aku protect. Dan untuk password? TENANG….. pw nya masih sama kayak pw semalem. So…beruntunglah bagi kalian yang udah aku kasih pw. Heheheh.. Tapi please…. tinggalin komentar yang membangun untuk ff ku ini ya, jangan jadi silent readers. Aku bakaln sedih dan kecewa.. ;’(

Oke, tihis my story..

SILAHKAN kalian klik link di bawah ini dan masukkan passwordnya  ^^ HAPPY READING !!

 Diproteksi: SICK ENDING

Advertisements

SICK part ONE

Tittle      : Sick !

Author    : Siscataetae

Cast         : Kim Taeyeon – Kwon Yuri – Tiffany Hwang

Genre      : Killer, Kekerasan, Hurt, Genderbender

Rate         : M (violence)

 

******************

Annyeonghaseyo….

Perkenalkan aku Siscataetae author baru disini. Pertama-tama aku ucapkan terimakasih banget buat Eternity yang udah ngizinin aku buat publish ff ku di sini, hehehe .  Nah hari ini untuk pertama kalinya aku kirim ffku di WP ini semoga kalian suka sama ceritanya ya.. ^_^ Dan sebenernya sih nih ff udah pernah sebelumnya aku post di WP tetangga, tapi aku mau post ulang di WP ini, jd bagi sebagian readers di sini yang ternyata udah pernah ngebaca FF ku itu dari part awal sampai akhir. Harap maklum ya ceritanya nggak ada yg ku ubah. ^_^  So U keep want to read or not? Up To You…wkwkkw   … Oke guys. Happy Reading bagi yang belum pernah baca.

 

.

***SICK***

.

 

“hahh..hhhahhh…hhaaahh…”

 

Deru nafas seorang laki-laki dengan keringat yang membanjiri tubuhnya terdengar begitu jelas memekakan telinga yang mendengar. Laki-laki itu membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran wastafel.

Ia mencengkram kedua telapak tangannya begitu kuat hingga menampakkan urat-urat nadi, dan tak lupa tatapan tajam yang menusuk ia perlihatkan di balik cermin yang berada di depannya. Kedua matanya memerah.. sakit. Ya… sakit di relung hati yang kini semakin membara ia rasakan. Dengan perlahan ia arahkan satu tangannya untuk mencengkram dadanya guna menahan rasa sakit itu.

 

‘Andwae !! Hajima !! Ttt…toloong !!!!’

 

Mengingat kejadian itu, kejadian di mana ia tampak begitu pengecut dan biadab. Membuat airmatanya mengalir dan tubuhnya bergetar.

 

“Hikzz…hikzz,,, mm..mmianhae…mmianhae..”

 

Laki-laki itu berkata dengan suara yang begitu lirih, sayat akan kesedihan. Dengan perlahan laki-laki dengan wajahnya yang sedikit brewokan itu perlahan mengambil sebuah pisau tajam yang terletak tak jauh dari ia berada saat ini. Tangannya bergetar saat memegang benda tajam itu.

 

“Hari ini… kalian semua harus mati !”

 

Sinis laki-laki itu dengan tatapannya yang begitu menusuk penuh kebencian.

.

.

.

.

.

Malam itu perkotaan Seoul tengah di dera hujan gerimis hingga menimbulkan hawa dingin yang menusuk. Namun, dinginnya cuaca saat ini tidak membuat seorang laki-laki dengan stelan jas hujannya membatalkan niatnya untuk menghilangkan nyawa seseorang yang kini menjadi incarannya. Ya….. seseorang yang telah membawa mala petaka dalam hidupnya, seseorang yang telah merubahnya menjadi sosok yang begitu menyeramkan dan beringas seperti saat ini.

Di sebuah bar, tampak seorang laki-laki dengan tubuh atletisnya melangkah gontai menuju arah pintu yang bertuliskan EXIT. Pengaruh alkohol membuat ia sedikit kehilangan keseimbangan, Ia terus berjalan sambil sesekali cigukan.

Kini, sampailah laki-laki tersebut di sebuah gang sempit yang sangat sepi. Ia terus berjalan sampai ia pun tak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah mengikutinya dari belakang. Seseorang itu terus mengikuti kemana pun ia pergi.

“Uwweeekk ..Uweeekk…!!” Laki-laki mabuk itu menghentikan langkahnya sejenak akibat rasa mual yang menderanya. Ia membungkukan tubuhnya dengan kedua tangan yang berpegang pada kedua lututnya.

Laki-laki misterius yang mengikutinya dari tadi tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini, dengan gerakan cepat laki-laki misterius itu menancapkan pisau yang sedari tadi berada di genggamannya ke punggung laki-laki mabuk itu. Darah mengalir deras dari objek yang di tusuk.

Laki-laki mabuk itu berusaha menyelamatkan dirinya, namun naas. Sebelum itu terjadi sosok misterius itu terus saja menusuk bagian punggungnya bertubi-tubi.

 

“Aggggghhhhhhhh !!!”

 

Laki-laki misterius itu tidak mempedulikan teriakan histeris dari korbannya, ia terus saja menusuk sang korban layaknya orang kesetanan.

Setelah dirasa cukup, laki-laki misterius itu membalikkan tubuh sang korban untuk menghadap kearahnya. Korban yang saat itu masih setengah sadar melihat sang pelaku  mulai membuka topi jas hujan yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya. Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui siapa sosok misterius yang dengan membabibuta menusukkan benda tajam itu ke punggungnya. Ya…. Sosok misterius itu ialah seseorang yang ia kenal.

Dapat ia lihat sorotan tajam dari kedua mata laki-laki yang menusuknya, sebuah tatapan penuh ambisi dan benci.

“Kkk..ka….Arrggghhh !!” Belum sempat laki-laki itu berbicara, pisau telah lebih dulu menancap tepat menembus kerongkongannya.

 

BBUUUKKK !!

 

Sedetik kemudian laki-laki mabuk itu tewas seketika dengan kondisi menggenaskan.

***********************

 

Seoul, 13.30 kst

 

Seorang laki-laki dengan setelan jas putihnya berjalan diringi beberapa orang suster di belakangnya. Ia berjalan tergesa-gesa menuju arah di mana salah seorang pasiennya berada.

“Tolong buka pintunya !”

Perintah laki-laki berjas putih itu kepada beberapa orang penjaga yang berada di depan daun pintu kamar sang pasien.

Pintu pun terbuka dan dengan perlahan laki-laki berjas putih itu melangkahkan kedua kakinya memasuki kamar pasiennya itu. Tatapannya terhenti kearah seseorang yang tengah meringkuk di sudut kamar, tubuhnya bergetar dan raut wajahnya penuh akan sarat ketakutan.

Kwon Yuri. Ya… laki-laki berjas putih itu ialah Kwon Yuri, seorang dokter rumah sakit jiwa Seoul yang menangani seorang pasien laki-laki mengidap gangguan kejiwaan yang begitu parah akibat masa lalu yang ia alami. Masa lalu yang benar-benar menyakitkan…baginya.

Yuri mendekati laki-laki itu lalu berjongkok di hadapannya.

“Gwenchana, semua akan baik-baik saja. Ayo kemarilah ! kau tak perlu takut.” Ucap Yuri lembut sambil mengulurkan tangannya kearah pasiennya.

“Ak..aku.. takut.. aku tt..takut.”

Dapat Yuri dengar suara gemetar dari laki-laki itu. Memang, Yuri telah sering mendengar kata perkata maupun kalimat perkalimat dari mulut pasiennya. Maka dari itu, Yuri berusaha untuk terus menenangkannya.

“Gwenchana… ada aku di sini. Kau tak perlu khawatir… kemarilah”

Sekali lagi, Yuri berusaha menenangkan pasiennya. Namun sang pasien tetap menggelengkan kepalanya tanda tidak mau mengikuti interupsi dari Yuri.

“Dd..dia membenciku… dia membenciku”

Yuri menghela nafasnya, hampir setiap hari ia mendengar kalimat ini keluar dari mulut sang pasien. Sebuah kalimat yang menurutnya mengarah pada suatu kisah yang mendalam antara pasiennya dengan seseorang yang sering di sebut sang pasien dalam mimpinya.

“Sunny-ah..” Yuri memanggil salah seorang suster yang mendampinginya

“Nde dokter”

“Beri alat suntik itu padaku”

Suster bernama lengkap Lee Sunny itu pun memberikan apa yang di minta dokter Kwon Yuri, sebuah obat penenang bagi pasien yang menderita depresi atau sejenisnya.

Setelah memasukkan bius kedalam alat suntik tersebut, Yuripun dengan perlahan mulai mengarahkan jarum suntik itu ke lengan sang pasien.

Dalam sekejap, pasien laki-laki itu tak sadarkan diri, ia tertidur dalam rangkulan Yuri.

“Tidurkan ia di atas ranjang lalu ikat kedua lengannya di sisi tempat tidur guna berjaga-jaga apabila sesuatu yang tak di inginkan terjadi” Perintah Yuri kepada beberapa orang penjaga dengan nada suara yang tegas.

Yuri menyandarkan tubuhnya di kursi ruang kerjanya.

“Hhaaaahhhh….” Menghela nafas, wajahnya kini terlihat begitu lelah.. wajar saja, karena semenjak ia mendapati pasien dengan penyakit gangguan jiwanya itu, ia diliputi rasa penasaran yang begitu besar tentang bagaimana sebenarnya masa lalu sang pasien dan apa yang membuatnya menjadi seperti ini serta siapa yang selalu di sebut-sebut sang pasien dalam mimpinya.

 

TOK….TOK….TOK…

 

Terdengar suara pintu di ketuk.

“Masuklah !” Seru Yuri dari dalam ruangannya.

 

CEKLEK///

 

Daun pintu pun perlahan di buka. Yuri tersenyum melihat siapa yang datang. Jessica Jung, istri yang sudah hampir 3 tahun ia nikahi.

“Kau kenapa sayang? Tampaknya kau begitu lelah..” Ucap Jessica sambil memijit pelan kedua bahu Yuri.

Yuri memejamkan kedua matanya, ia menikmati pijatan Jessica yang membuat rasa lelahnya terobati sedikit.

“Aku benar-benar kasihan padanya Jess…” Jessica yang mengerti siapa yang di maksud sang suami mulai angkat bicara.

“Yul… bukankah waktu itu kau memintaku untuk mencari informasi mengenai  seorang wanita bernama Tiffany Hwang?” Yuri mengangguk membenarkan.

“Aku sudah mengetahui sedikit tentang dirinya Yul”

Yuri dengan sigap membalikkan tubuhnya menghadap kearah Jessica yang berada di belakangnya.

“Jinja? Ottokae?” Tanya Yuri penasaran.

“Dia seorang wanita kelahiran 89, ia pernah berkuliah di Universitas Sungkyukwan. Sebagai mahasiswi teladan, hampir di setiap semester ia selalu meraih IPK tertinggi. Dan yang kudengar ia juga sosok yang sangat ramah kepada semua orang, di Seoul ia tinggal sendiri di sebuah apertemen kecil yang terletak di pusat kota.”

Yuri dengan seksama terus mendengarkan setiap penjelasan dari istrinya.

“Namun sayang, Tiffany tidak berhasil meneruskan pendidikannya hingga sarjana karena suatu hal…” Jessica terdiam, ia tampak sedikit ragu apakah harus melanjutkan perkataannya atau tidak.

Tapi bukan Kwon Yuri namanya apabila tidak penasaran.

“Suatu hal? Apa itu Jessica?” Selidik Yuri.

Jessica tampak memikirkan apa yang akan ia katakan. Tak berapa lama setelah berpikir Jessica pun melanjutkan penjelasannya.

“ Ia tewas menggenaskan di apertemen miliknya..”

Yuri membelalakkan matanya setelah mendengar penjelasan tak terduga dari Jessica. Ia benar-benar shock dengan apa yang ia dengar saat ini. Tiffany Hwang, wanita yang selalu di sebut- sebut namanya oleh pasiennya di setiap mimpi telah tiada… bahkan wanita itu tewas dengan cara yang tak wajar….

 

“Bagaimana sebenarnya masa lalumu bersama wanita ini, sehingga membuat kau begitu terpuruk Kim Taeyeon??”   Lirih Yuri dalam hatinya.

.

Kwon Yuri. Seorang dokter yang menangani pasien pengidap gangguan kejiwaan itu tengah memerhatikan sebuah buku dengan sampul berwarna biru muda, buku itu terletak di atas meja kerjanya.

Ketika Yuri mengantarkan Jessica pulang, tiba-tiba ada seseorang yang mendatanginya dan seseorang itulah yang memberikan buku itu padanya.

 

Flashback#

“Hati-hati di jalan Sica.. kemungkinan malam ini aku akan lembur”

Ucap Yuri setelah istrinya itu memasuki mobil yang akan mengatarkannya pulang.

“Gaudae, kalau begitu aku pulang Yul.. dan ingat, jangan terlalu memforsir pekerjaanmu ! Kau juga butuh istirahat”.

Yuri tersenyum lalu mengecup singkat bibir istrinya.

Saat Yuri hendak membalikkan tubuhnya ke arah pintu masuk Rumah Sakit, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.

“ Maaf, apakah anda dokter Kwon Yuri yang menangani pasien bernama Kim Taeyeon?”

Yuri sedikit menggernyitkan alisnya melihat siapa yang menghampirinya. Terang saja karena ia benar-benar baru melihat orang tersebut.

“Benar, aku Kwon Yuri dan saat ini aku memang tengah menangani pasien yang bernama Kim Taeyeon. Tapi kalau boleh saya tahu anda ini siapa ?”

“Perkenalkan, aku Choi Sooyoung.. mahasiswa alumni Universitas Sunkyukwan.”

Yuri sedikit membelalakkan matanya mendengar penjelasan dari orang asing itu. Seperti mengetahui apa yang di pikiran Yuri, laki-laki bermarga Choi tersebut berkata bahwa ia merupakan teman dekat  Taeyeon saat mereka masih kuliah.

“Jadi… kau dan Taeyeon pernah satu roommate ?”

Selidik Yuri memastikan kembali apa yang tadi ia dengar benar-benar nyata. Saat ini ia dan Sooyoung tengah berada di cafeteria yang tak jauh dari Rumah Sakit Jiwa tempat Yuri bekerja.

Sooyoung mengangguk sambil menyeruput kopi hangatnya.

“Dulu, aku dan Taeyeon menyewa apertemen kecil untuk kami tempati bersama. Awal aku mengenalnya adalah saat kami pertama kali mendapatkan kelas yang sama.”

“Apakah kalian sangat dekat?”

Sooyoung mengangguk kembali.

“Benar, dia adalah teman ku. Namun…”

“Namun kenapa?”. Tanya Yuri penasaran.

“Semenjak ia dekat dengan wanita itu, ia semakin berubah dan tertutup. Aku seperti tidak mengenal dia lagi.”

Apa wanita itu adalah Tiffany?’Tanya Yuri dalam hatinya

“Hmm… dokter Yuri ?”

Yuri mendongak saat Sooyoung memanggilnya.

“Sebenarnya tujuanku datang kemari adalah untuk memberikan ini.”

Yuri melirikkan matanya kearah benda yang dihadapkan Sooyoung padanya.

“Aku harap, setelah dokter membaca apa isi dari buku ini..dokter akan mengetahui penyebab Taeyeon menjadi seperti sekarang”

 

Flashback Off##

 

“Khhhahhh…”

Menghela nafas, Yuri pun mengambil buku itu dari meja kerjanya.

 

Kim Taeyeon’s Diary

 

Itulah salah satu kalimat yang Yuri lihat di lembaran pertama buku itu. Dengan hati yang semakin penasaran, Yuri kembali membuka lembaran selanjutnya. Dan di sanalah awal kisah seorang Kim Taeyeon di mulai.. .

 

Flash back # (Taeyeon POV)

 

Seoul, 12 Juni 2008

Hari itu adalah hari di mana aku memasuki semester ke dua dari perkuliahanku. Aku adalah anak tunggal dari keluarga yang tidak terlalu kaya yang saat ini menempuh jenjang pendidikan strata satu di Universitas ternama yaitu Sunkyukwan dengan jurusan sastra.

Sewaktu aku masih duduk di bangku SMA kelas tiga, aku harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kedua orangtuaku menjadi korban kecelakaan bus yang mereka tumpangi. Kini, dengan kemampuanku aku menghidupi diriku sendiri. Karena tidak ingin berlama-berlama tenggelam dalam kenangan bersama orangtuaku, aku sengaja menjual rumah kami dan menyewa apertemen kecil dengan biaya yang sedikit murah. Aku tidaklah sendiri tinggal di apertemen itu, untung saja aku mendapatkan seorang teman yang mengalami nasib yang sama denganku. Sebut saja namanya Choi Sooyoung. Ya… kami berdua tinggal satu apertemen sekarang.

Agustus 2008

Pagi itu cuaca sangat cerah, membuat aku semakin semangat menyambut hari-hariku seperti biasanya.

“Ya lepaskan Choi Siwon !”

Aku menghentikan langkahku saat melihat seorang wanita. Seorang wanita yang selama ini sering menjadi pusat perhatian banyak orang, namanya Tiffany.. Tiffany Hwang. Ia merupakan Mahasiswi berprestasi di kampus ini, selain pintar ia juga memiliki fisik yang bisa dikatakan sempurna. Ia sangat cantik dan ramah, wajar saja banyak laki-laki yang menginginkannya menjadi kekasih mereka. Tidak terkecuali laki-laki bernama Siwon. Ya, hampir semua mahasiswa di kampus ini tahu bagaimana bernafsunya Siwon untuk mendekati seorang Tiffany Hwang. Namun, ia selalu saja mendapat penolakan dari wanita yang ia inginkan itu.

“Ayolah sayang.. sampai kapan kau terus menolak ku seperti ini huh?”

“Tingkah mu benar-benar membuat ku muak Siwon ! Harus berapa kali ku katakan bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun padamu !”

“Ciihh.. kau sombong sekali huh !??”

Dapat ku lihat tatapan penuh amarah dari wajah Choi Siwon saat aku menahan tangannya yang hendak melayangkan tamparan ke wajah wanita yang saat ini berlindung di belakangku.

“Jjj..jangan mengkkk..kasarinya ss seperti itu !” Ucapku sedikit gemetar karena aku sebenarnya juga merasa takut untuk berurusan dengan Siwon.

“Haaiishh !! Ya pendek ! kau jangan ikut campur ! sebelum aku melayangkan pukulan ke wajahmu ada baiknya kau minggir dari sini !”

Karena kesal melihat aku yang seolah tidak mematuhi ucapannya membuat ia dengan sigap melayangkan pukulan ke wajah ku. Dapat ku rasakan sebercak darah mengalir dari sudut bibirku.

“Choi Siwon, kau benar-benar keterlaluan !!! sebaiknya kau pergi dari sini ! Aku tidak ingin melihatmu !!”

Teriak Tiffany lalu berjongkok untuk merangkul tubuhku yang melemah akibat serangan yang di hadiahkan oleh namja yang lebih tinggi dariku itu.

“Araso.. aku akan pergi, tapi ingat Tiffany ! kau tidak akan pernah bisa lepas dari ku “

Tiffany memutar ke dua bola matanya bosan. Ia benar-benar tidak takut akan ancaman yang di lontarkan Siwon padanya.

“Sssshhh….” Ringisku saat Tiffany mengusap luka di sudut bibirku dengan menggunakan kapas yang telah di basahi cairan alkohol.

Kini kami berdua telah berada di atas balkon kampus.

“Gwenchana?” Bisa ku dengar nada ke khawatiran dari Tiffany saat itu.

“Gg.. gwenchana  .Ppp..Ppanny-ah..”

Setelah selesai mengolesi sedikit obat pada luka ku Tiffany pun menyimpan peralatannya ke dalam tas yang bertuliskan P3K.

“Khhaaahhh.. untung saja aku membawa kotak p3k hari ini”

Tiffany membalikkan tubuhnya menghadap kearahku.

“Gomawo Tae, setiap kali aku membutuhkan bantuan kau selalu datang membantuku.”

Dapat ku lihat senyuman indah miliknya yang kini terukir jelas di wajahnya.

Sebenarnya tanpa orang lain ketahui, aku dan Tiffany sudah sangat akrab beberapa bulan belakangan ini. Tiffany mulai merasa nyaman denganku saat aku menolongnya yang tengah di copet saat ia berbelanja. Dari kejadian itulah kami mulai saling mengenal dan akrab seperti saat ini dan apa kalian tahu? Tiga hari kami berteman namun di hari ke empatlah aku mulai mengetahui bahwa Tiffanylah sosok yang sering di bicarakan banyak orang.

“Taeyeon… aku benar-benar merasa nyaman jika bersama dengan mu,” ucap Tiffany sambil merangkul lenganku.

Tiffany menyandarkan kepalanya di bahuku, kulirik kearahnya dan benar saja, ia kini memejamkan matanya. Aku menyunggingkan senyum di wajahku sambil sesekali mengelus kepalanya yang bersandar di bahuku.

.

.

Desember 2008

Seoul kini di selimuti salju putih, malam tahun baru kali ini akan menjadi malam yang menegangkan bagiku. Karena pada malam inilah aku bertekad untuk menyatakan perasaanku padanya.

Sebelumnya kami telah membuat janji untuk bertemu di Namsan Tower. Dan dapat ku lihat kini Tiffany sudah lebih dulu berada di tempat yang kami janjikan.

Dengan perlahan aku berjalan menghampirinya yang tengah berdiri membelakangiku

“Ehhmm !!”

Tiffany mendongakkan pandangannya kearahku yang sudah berada di sampingnya. Aku lihat ia tersenyum.. tersenyum dengan sangat manis bahkan kedua matanya pun juga ikut tersenyum hingga membentuk bulan sabit.

“Kau datang juga Tae..”

“Tentu saja Panny, aku tak mungkin mengingkari janjiku”

Ia semakin tersenyum lalu memelukku hangat dan aku pun membalas pelukannya.

“Panny-ah.. ada sesuatu yang ingin ku berikan padamu di malam tahun baru ini.”

Ucapku dalam pelukannya.

“Jongmal?” Tiffany melepas pelukannya lalu beralih menatapku dengan binar.

Dengan perlahan aku mengeluarkan sebuah kotak persegi dari dalam saku mantelku, dan aku pun membukanya.

“Tttae… Ii..ini?”

“Gaudae Panny, cincin ini memang tidak terlalu mahal. Tapi … aku membelinya hanya untukmu dengan menggunakan uang tabunganku. Ku harap kau menyukainya.. hehehheheh…”

Ucapku sembari menggaruk-garuk belakang kepalaku yang tidak gatal.

“Tentu saja aku menyukainya Tae. Hmm… tolong pasangkan di jariku !”

“Dengan senang hati tuan putri”

Dengan perlahan aku memasangkan benda berbentuk lingkaran perak itu di jari manisnya. Aku tersenyum saat melihat Tiffany tidak henti-hentinya memuji hadiah pemberianku. Ia terlihat sangat senang.

“Aku menyukaimu Panny-ah..”

Ucapan tiba-tiba dariku membuat ia terdiam lalu menatapku penuh arti

“Tae.. barusan kau mengatakan apa?.”

“Aku menyukaimu, Tiffany” Ucapku penuh penekanan untuk kedua kalinya

Dapat ku lihat matanya mulai berkaca-kaca, ia dengan perlahan beralih untuk memelukku begitu erat.

“Bisakah kau mengatakannya sekali lagi Tae?” Pinta Tiffany padaku sambil sedikit terisak

“Gaudae, aku Kim Taeyeon sangat..sangat menyukai Tiffany Hwang. Dan apakah Tiffany Hwang juga memiliki perasaan yang sama pada Kim Taeyeon?”

“Nde, nado Kim Taeyeon. Aku juga sangat…sangat menyukaimu”

Betapa bahagianya aku saat mengetahui perasaan cintaku di terima olehnya. Dengan hati-hati aku mendekatkan wajahku ke wajahnya untuk mepersatukan bibir kami. Tiffany tidak menolak, ia bahkan memejamkan kedua matanya dan membiarkan aku mencumbu bibir tipisnya dengan lembut.

“Hmmmppth…..mmmppptt..mmpptt…”

Ciuman kami kini berubah menjadi lumatan-lumatan kecil, bahkan sesekali lidah kami beradu dalam lumatan itu. Tiffany menekan kepalaku untuk memperdalam ciuman kami dan aku pun merangkul pinggangnya semakin erat agar kami semakin menikmati percintaan ini.

“Khhhhaaaahh…. “

Kami melepas kan ciuman yang memabukkan itu saat aku maupun Tiffany mulai kekurangan oksigen.

Jarak kami berdua begitu dekat hingga kening kami pun saling bersentuhan. Aku masih dengan posisiku yang memeluk pinggangnya dan ia pun masih dengan posisinya yang memeluk leherku.

“Terimakasih Tiffany, karena kau tidak menolakku seperti kau menolak mereka yang mengejarmu”

“Selama ini aku selalu menantikanmu untuk mengatakannya Tae. Aku bahagia, akhirnya apa yang kunantikan terjadi juga”

Aku semakin mempererat pelukan kami. Sambil memejamkan mata, aku menghirup aroma tubuh Tiffany yang begitu harum di indra penciuman ku.

Malam itu, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Tiffany akan menerima cintaku. Aku sangat bahagia. Tiffany, dia.. dia ternyata juga mencintaiku. . .

 

Malam itu, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Tiffany akan menerima cintaku. Aku sangat bahagia. Tiffany, dia.. dia ternyata juga mencintaiku. . .

.

“Gomowo Taetae “ Seru Tiffany setelah ia turun dari motorku.

Hari itu setelah kami menikmati puncak dan meriahnya malam tahun baru aku mengantarnya pulang dengan menggunakan motorku.

“Huh? Taetae?” Tanyaku bingung

“Gaudae, mulai sekarang aku akan memanggilmu Taetae. Otte?”

Aku menyunggingkan senyumku lalu mengangguk dan ia pun langsung memelukku.

“Taetae.. gomawo. Aku sangat senang malam ini”

Dapat ku rasakan ketulusan dari ucapan yang Tiffany lontarkan padaku. Aku tidak menyangka bahwa selama ini Tiffany juga memiliki perasaan yang sama denganku. Bukankah itu suatu hal yang mustahil? Tiffany, sebagaimana semua orang tahu betapa cantik, pintar dan baiknya dia.. apalagi ia bukanlah berasal dari keluarga biasa sepertiku. Tapi ia merupakan anak orang kaya. Memang, kedua orangtuanya tidak berada di Korea. Ia lebih memilih hidup mandiri di Seoul ketimbang bergantung pada kedua orangtuanya. Ia bagiku.. benar-benar gadis yang luar biasa.

.

.

.

Aku berjalan mengitari lorong-lorong apertemen tempat aku tinggal. Tepat di depan pintu kamar apertemenku, aku melihat mereka, ya.. mereka yang membuatku harus melakukan suatu hal yang tidak ku inginkan.

“Akhirnya kau pulang juga Kid?”

Tanya salah satu dari mereka dengan raut wajah mengejek padaku. Dapat ku lihat kini salah satunya lagi yang ia merupakan pimpinan dari mereka mendekatiku.

“Aku turut bahagia malam ini untukmu Kid. Kau benar-benar menakjubkan..Tapi kau jangan lupa, pada perjanjian awal kita.” Bisiknya ketelingaku.

“Khhaaahh… kaja teman-teman. Kita pergi” Ucap laki-laki itu kembali yang di turuti oleh dua orang  temannya.

.

CEKLEK

Aku membuka daun pintu dan melihat Sooyoung temanku sudah tertidur lelap di sofa. Seperti biasa, ia selalu mnungguku jika aku pulang telat dan tak mengabarinya.

“Soo.. bangunlah ! Soo.??.”

Ia mulai terbangun. Dengan mata yang masih mengatuk ia memandangku.

“Huh? Taeng kau sudah pulang?”

Aku tidak menjawab ucapannya, dengan lelah aku melangkahkan kakiku menuju tempat tidur.

“Khhaaaahh…. Semenjak kau dekat dengan gadis itu, kau tidak seperti sahabat yang ku kenal lagi Taeng.. kau tampak sudah berubah..”

Gumam Sooyoung yang masih dapat terdengar di telingaku. Memang, hanya Sooyounglah yang mengetahui bagaimana dekatnya aku dengan Tiffany.

Hari berganti hari dan bulan pun berganti bulan. Kini hubunganku dengan Tiffany sudah menginjak hampir setengah tahun.

Banyak hal yang kami lakukan bersama, di area kampus aku memang selalu menghindar setiap Tiffany mendekatiku. Karena aku tidak ingin orang lain mengetahui hubungan kami dan Tiffany pun menyadarinya. Ia mengerti maksud dan tujuanku melakukannya.

Namun, apabila sudah berada di luar kampus barulah kami bertingkah layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Berbagai tempat indah dan menyenangkan kami kunjungi bersama, dan saat itulah.. perasaan ini, ya.. perasaan ini semakin membesar untuknya. Aku benar-benar tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku sungguh mencintainya. Apa aku salah dengan perasaan ini? Toh Tiffany juga memiliki perasaan yang sama denganku? Tapi.. tapi kenapa aku tidak boleh dan tidak bisa untuk memilikinya seutuhnya? Mereka.. ya… mereka suatu saat akan memaksaku untuk melakukannya. Ottokae? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membawa Tiffany lari bersama ku? Atau tetap menjalaninya dengan alasan yang mungkin bisa terdengar egois. Aku benar-benar gundah, gelisah dan tak tau harus melakukan apa. Ottokae Panny-ah? Ottokae?

.

.

Siang itu setelah kami pulang kuliah Tiffany mengajakku untuk makan siang di apertemennya. Dengan telaten ia menyiapkan makanan favoriteku  yaitu Soup Kimchi.

“Igo Taetae, “

“Gomawo Panny-ah”

Seruku lalu mulai menyantap masakannya dengan lahap.

“Nyymm… seperti biasa, masakanmu selalu yang menjadi no.1.. hehehhe”

“Kau bisa saja Tae”

.

Setelah makan siang bersama, kami memutuskan untuk menonton tayangan teleivisi sambil duduk di sofa. Tiffany duduk sambil memelukku dari samping.

“Panny-ah..”

“Hmmm?

“Besok malam, bolehkah aku berkunjung ke apertemenmu?”

“Tentu saja boleh Tae. Aneh.. semenjak kapan kau meminta izin padaku huh?”

Tiffany mencubit kedua pipiku gemas.

“Tt.Tae?”

Aku semakin memeluk tubuhnya begitu erat seolah-olah kami akan berpisah. Dengan perlahan ku kecup keningnya lama.

“Aku mencintaimu Panny-ah… aku mencintaimu”

Dapat kurasakan Tiffany memabalas pelukanku

“Nado Taetae, aku juga sangat…sangat mencintaimu”

Tepat pada pukul delapan malam, aku tengah mempersiapkan diriku untuk pergi ke apertemen Tiffany. Aku menghidupkan mesin motorku lalu menjalankannya menuju kesana.

Hampir setengah jam perjalanan, aku telah sampai di depan apertemennya. Dengan perlahan aku melangkahkan kakiku menuju ke tempat ia berada.

TINNUNG….TINNUUNG…

CEKLEK

Pintu pun di buka dan terlihat lah Tiffany dengan pakaian rumahnya menyambutku.

“Taetae” Seru Tiffany dengan ceria.

.

.

Ku lihat Tiffany membawakan minuman beserta cemilan dari arah dapur. Sangat terlihat sekali rautan wajahnya yang bahagia.

Malam itu cukup lama kami berbincang-bincang di mulai dari menceritakan kisah hidupku semasa kecil hingga aku bisa berkuliah di Universitas ternama di Seoul, Sunkyukwan.

Tiffany berada dalam pangkuanku, malam itu ia begitu manja. Ia terus saja berbicara mengenai kehidupannya padaku. Hingga akhirnya ku beranikan diriku untuk menciumnya dan seperti biasa, ia tidak menolak.

“Hhhmmmpptt…Ahhh…”

Tiffany mendesah saat aku mulai melumat leher jenjangnya. Tanganku tidak tinggal diam, aku mengarahkannya untuk meremas gundukan kenyal yang masih berbalut bra dan pakaiannya.

 

 

WARNING !!

 

Ini adegan berbahaya, tidak untuk di tiru !! dan bagi anda yang membaca di harapkan istighfar !!

Maka dari itu terpaksa pada secene ini di password, bagi anda yang berusia 19 tahun keatas & sudah bisa menentukan mana yang benar & mana yang salah, dipersilahkan untuk meminta password untuk membaca secene ini ke author yang bersangkutan yaitu melalui email: siscaamelia66@yahoo.com. Pada saat meminta pw di mohon untuk mencantumkan ID dan usia kalian ya ^_^. Dan bagi readers yang masih berusia di bawah 19 tahun. Mohon maaf, ojo minta pw ! Karena aku nggak akan kasih  Uwweeeekk :p

Diproteksi: SICK part ONE Pw

 

 “Kau… anggap kau tidak pernah melihat apa pun hari ini Kim Taeyeon. “

Bisik Siwon ketelingaku sebelum ia pergi.

.

.

Dengan tubuh gemetar aku masuk kedalam apertemen Tiffany menuju ke tempat dimana ia berada.

Aku menangis saat ku lihat Tiffany dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ia tewas dengan cara yang sangat menggenaskan.

Aku duduk di samping jenazahnya. Aku tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun selain isakan tangis yang lolos dari mulutku.

Ku lirik ke arah jari tangan kanannya yang masih mengenakan cincin pemberianku. Bagai putaran film kenangan saat aku bersamanya terlintas di otak dan pikiranku.

“Gaudae, aku Kim Taeyeon sangat..sangat menyukai Tiffany Hwang. Dan apakah Tiffany Hwang juga memiliki perasaan yang sama pada Kim Taeyeon?”

“Nde, nado Kim Taeyeon. Aku juga sangat…sangat menyukaimu”

“Taetae, apa kau tau? hal paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat bersamamu”

“Wae Panny-ah kau kenapa?”

“Ani.. aku hanya terharu atas perlakuan mu padaku Tae”

“Gwenchana..aku ada di sini Panny-ah”

“Aku sungguh mencintaimu Tae… sampai kapan pun perasaan itu tidak akan pernah berubah”

“Ddia berbohong padaku kan Tae? Iinn.ini tt..tidak benarkan? Huh?”

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali. Aku sungguh mnenyesal, seharusnya aku menolongnya, seharusnya dari awal aku tidak boleh menuruti keinginan laki-laki brengsek bernama Siwon itu. Seharusnya….seharusnya aku menjaga Tiffany, aku melindunginya, tapi apa?? Apa yang telah ku lakukan?? Ku biarkan ia di perlakukan melebihi binatang di hadapanku, kubiarkan ia merintih kesakitan sambil memohon pertolongan dariku? Dimana hati nuraniku sebagai manusia? Dimana?? Aku benar-benar biadab !! aku bajingan !!

Tapi mereka… Choi Siwon dan temannya, bukankah mereka lebih biadab dariku?? Aku … aku Kim Taeyeon berjanji tidak akan pernah melepas mereka begitu saja.. aku … aku akan membalaskan rasa sakit yang mereka torehkan padamu Tiffany. Aku berjanji padamu.

 

FLASHBACK OF

Yuri menutup buku itu lalu meletakkannya di meja kerjanya. Ia menyeka air mata yang sedari tadi telah mengalir membasahi kedua pipi tirusnya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa betapa mengerikannya kisah yang di lalui oleh pasiennya itu. Namun yang membuatnya bingung, sebenarnya apa yang membuat Taeyeon mau menuruti keinginan laki-laki yang bernama Choi Siwon itu? Dan.. mengapa kasusTiffany di tutup begitu saja walau belum menemui titik terang? Bahkan polisi belum menangkap sang pelaku hingga sekarang??

TOK…TOKKK….TOKK..//

Yuri tersadar dari lamunannya saat seseorang mengetuk pintunya.

“Masuklah “ Seru Yuri

CEKLEK

Pintupun terbuka dan terlihatlah seorang suster dengan raut wajah khawatirnya.

“Dokter… pasien anda… dia…dia…”

Suster itu tampak menghela nafasnya sejenak lalu melanjutkan kembali ucapannya.

“Pasien anda yang  bernama Kim Taeyeon, dia melarikan diri dokter”

“Mwo??!!”

Yuri kaget atas apa yang ia dengar, tidak  mungkin.. ini tidak mungkin terjadi? Bukankah ia sudah memberikan obat penenang pada Taeyeon dan bukankah ia juga sudah menyusruh penjaga untuk mengikat kaki dan tangannya? Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?

“Andwae ! Taeyeon, tidak mungkin dia..” Ucap Yuri dalam hatinya

 

 

.

 

TBC

 

SARANGHAE (1/2)

screenshot_2017-05-10-13-48-221.jpg

Cast: Taeny, Yulsic, Soosun,

Subcast: Siwon

Genre: Girl x Girl

Typo bertebaran

Happy reading

.

.

.

“Tck, dimana anak itu?” Seorang gadis menatap kesal ponsel genggamnya. Pasalnya seorang yang ia tunggu dari tadi belum menampakan batang hidungnya sama sekali.

“Tiff! hahh.. hahh.. hahh aah Mian, hahh.. aku terlambat” Ujar gadis itu dengan nafas tersengal-sengal.

“Ya!! Kau janji jam berapa padaku, jessica jung!?” Continue reading

EX 5

DG9xaWVUwAIsqgP

EX FINAL ENDING PART 5

Note : perhatikan setiap memoment di chap ini.. karena kalian akan binggung karena perbedaan waktu yang dialami kedua negara ini, maka aku akan membuat seolah-olah jika NY dan Korea memiliki jam waktu yang bersamaan. Oke? agar kalian tidak pusing hehehe.

“Yaaa! Kau darimana saja Nona Hwang?!” runtuk Yuri yang sedang mundar mandir didalam kamar miliknya

Continue reading

L.O.V.E (4)

screenshot_2017-05-28-14-41-291.jpgCast: Taeyeon, Tiffany

Other cast: Yuri, Jessica, Seohyun, Sunny, Sooyoung

Happy reading

Typo bertebaran

.

.

.

Taeyeon menatap sedih wanita yang terbaring lemah di ranjang putih itu. Taeyeon menggenggam tangannya. Berharap dapat menyalurkan kekuatan padanya. Taeyeon merasakan kantuk yang luar biasa. Semalam ia tidak tidur untuk menjaga wanita itu. Continue reading