L.O.V.E (3)

screenshot_2017-05-01-13-01-321.jpg

Cast: Taeyeon, Tiffany

Other cast: Yuri, Jessicga, Seohyun, Sunny, Sooyoung

Happy reading💃💃

Typo bertebaran👻👻

.

.

.

.

.

Suasana di dalam mobil itu sangat berisik. Kecuali satu orang yang termenung dikursi paling belakang.. yuri. Yuri melihat keluar jendela, entah apa yang ia lihat. Pandangan itu.. terlihat kosong.

Flashback

“imo?”

“Yul?”

“Kalian sudah saling kenal?” Tanya tiffany menatap keduanya.

“Ne, tentu saja. Dia keponakanku. Anak jiwoong oppa. Benar juga, aku pernah menceritakannya padamu. Apa ini gadismu, yul? Lucu sekali” Jawab taeyeon sambil tersenyum. Yuri hanya diam, mencoba mencerna apa yang terjadi. Begitupun jessica yang menatap khawatir pada yuri. Rasa khawatir yang semakin hari semakin bertambah pada gadis itu.

“Tidak, eonnie. Kami hanya teman aah tidak tidak.. sahabat. Yuri salah satu sahabatku selain jessica” Ujar tiffany sambil tersenyum kearah yuri.

“Chamkaman, eonnie. Ta.api kenapa marga kalian berbeda?” Lanjut tiffany ragu-ragu.

“Aah itu. Yuri ingin memakai marga mendiang ibunya, kwon”

“Aah begitu”

“Hei, sudah lama kau tidak mengunjungiku. Kemana saja, huh? Dasar anak nakal” Ujar taeyeon mendekat untuk memeluk yuri.

“A.aah ne. Aku.. aku sedang sibuk dengan beberapa hal” Ujar yuri membalas pelukan taeyeon.

“Ne, dia sibuk eonnie. Sibuk dengan gadis-gadisnya” Cibir tiffany membuat taeyeon dan yang lainnya tertawa. Yuri mencoba untuk tersenyum, walau matanya kini terasa panas. Bagaimana mungkin tuhan mengatur semuanya seperti ini. Bagaimana mungkin ia harus bersaing dengan taeyeon.. bibinya sendiri.

“Sudah cukup peluk-pelukannya. Kita sudah terlambat. Apa kita bisa berangkat sekarang?” 

“Soo benar. Kajja kita berangkat”

Taeyeon yang menyetir. Sunny dan sooyoung duduk di kursi tengah bersama dengan jessica. Yuri duduk dikursi paling belakang. Disusul dengan tiffany. Taeyeon yang melihat tidak ada yang duduk disampingnya menoleh ke belakang sambil cemberut.

“Ya ya ya. Apa yang kalian lakukan? Salah satu dari kalian pindah kedepan. Aku bukan supir kalian” Ujarnya cemberut.

“Yul?” 

“N.ne? Aah aku disini saja” Ujar yuri tersenyum kecil. Taeyeon tahu jika ia tidak bisa memisahkan pasangan soosun. Dia juga merasa sedikit canggung dengan jessica.

“Tippany, bisakah kau pindah kedepan?”

Degg

“Aah ne. Ne, eonnie

Flashback end

“Eonnie, kau berkeringat” Tiffany membantu menyeka keringat yang ada di pelipis taeyeon dengan sapu tangannya.

“A.aah Go.omawo. Ha.ari ini cuaca panas” Ujar taeyeon sedikit terbata. Yuri yang melihat itu memutuskan untuk menutup matanya.  Ia tak ingin melihat adegan yang lebih dari itu.

“Ya!! Kim taeyeon, apa kau gugup?”

“A.aku gugup? Kenapa.a aku harus gugup?”

“Terlihat sangat jelas, kim” Ujar sunny menampilkan smirknya.

“Yaa!! Kenapa kalian sama saja!?” Ujar taeyeon cemberut. Entah kenapa tiffany jadi merona setelah mendengar taeyeon gugup.

“Karena kau belum punya pasangan” Ujar sooyoung menatap sunny.

“Karena kau tidak laku” Lanjut sunny menatap sooyoung diikuti beberapa anggukan dari keduanya.

“Talk to my ass”

Karena perjalanan yang lumayan jauh, sooyoung dan sunny akhirnya tertidur. Jessica sesekali melirik yuri yang duduk dibelakang. Melihat mata yuri yang terpejam, akhirnya jessica pun menyusul yang lain untuk tidur. Sekarang tinggal taeyeon dan tiffany yang masih terjaga.

“Mereka semua tertidur”

“Tidurlah jika kau mengantuk”

“Gwencanha eonnie, aku tidak mengantuk. Lagi pula, siapa nanti yang akan menemanimu”

“Tak usah memikirkanku” Ujar taeyeon terkekeh.

“Aku akan tidur jika aku mengantuk nanti”

“Baiklah”

Taeyeon menggulung lengan kemejanya. Ia sedikit tidak nyaman dengan lengan kemejanya yang panjang itu. Taeyeon kesulitan menggulungnya dengan menggunakan satu tangannya. Tiffany yang melihat itu segera menawarkan bantuan pada taeyeon.

“Sini eonnie, aku akan membantumu” Ujar tiffany lalu mulai menggulungnya dengan perlahan hingga terlihat rapi.

“Aah ne gomawo”

“Sudah”

“Gomawo”

“Selalu saja. Terlalu banyak terimakasih”

“Hahaa selalu saja, Kau selalu membantu””

“Hahahaa” Keduanya tertawa.

Walaupun belum terlalu lama saling mengenal satu sama lain, mereka sudah dapat berbicara dengan santai. Tiffanypun begitu. Sedikit aneh memang, teman dekatnya hanya jessica dan yuri. Kadang sulit untuknya berbaur dengan orang baru. Tapi itu tidak berlaku untuk taeyeon.

Perlahan setetes buliran krystal mengalir dari sudut mata yuri. Tidak, ia tidak tertidur. Ia mencobanya, tapi tetap saja mata itu… Ia mendengar semua percakapan mereka. Tapi ia tidak bisa membuka matanya. Itu akan lebih menyakitkan jika melihatnya langsung.

Apa kau benar-benar menyukai- tidak.. Apa kau benar-benar mencintainya, tiff?’

.

.

.

“Yaak!! Banguun!! Kita sudah sampai!!!”

“Khamjagiya!! Yak kim taeyeon, kenapa berteriak!! Mana yang lainnya? Huh, kita sudah sampai?” Sooyoung dan sunny terlonjak kaget karena teriakan taeyeon. Mereka melihat sekeliling, ternyata cuma mereka bertiga yang masih berada dimobil.

“Ne, sudah sampai” Jawab taeyeon acuh.

“Tidak bisakah kau membangunkan kami lebih lembut?” Ujar sunny menatap kesal taeyeon.

“Tidak, karena aku memang sengaja. Satu sama” Ujar taeyeon sambil tersenyum manis pada mereka sebelum keluar dari sana.

“Awas saja anak itu, aku akan membalasnya” Ujar sunny.

“Sudahlah, kajja bunny”

***

Tiffany POV

Kamarku berada diatas sebelah kanan, tentunya jessica sebagai roommate-ku. Diseberang kamarku adalah kamar taeyeon eonnie dan yuri. Heoll.. Aku tak menyangka jika yuri adalah keponakan taeyeon eonnie. Aku benar-benar malu dengan apa yang pernah aku ucapkan pada yuri. Tunggu.. Kenapa aku harus malu? Toh.. yuri adalah sahabatku.

Tidak masalah bukan, jika aku menyukai bibinya. Mungkin kami juga akan menjadi keluarga yang bahagia hehee. Chamkaman.. lalu yuri memanggilku apa? Imo? Tidak itu untuk taeyeon. Hmm aunty? Tapi bagaimana jika dia memanggilku ahjjuma? Anak itu selalu senang mencari masalah denganku.

Mereka semua sedang tidur melepas penat dari perjalanan tadi. Kesepakatannya, kami akan berkumpul nanti sore ditaman belakang. Tenggorokanku terasa kering. Dimana dapurnya? Aaah disana..

“Pany-ah”

“!! Uhukk hukk uhuk”

“Gwencanha?”

Tiffany POV end

Tiffany menuruni anak tangga itu satu persatu. Ia sedikit kebingungan mencari dapur di villa yang luas itu. Ia menemukan dapur di bagian belakang bangunan, dekat dengan pintu belakang. Tiffany mengambil segelas air dingin dari lemari es yang besar itu. Tenggorokannya terasa kering karena belum di aliri air sedari tadi.

“Pany-ah”

“!!.. Uhukk hukk uhuk”

“Gwencanha?” Taeyeon menepuk pelan punggung tiffany.

“Uhhuk Gwencanha eonnie” Tiffany menoleh pada taeyeon. jarak wajah mereka begitu dekat sekarang. Dengan posisi taeyeon disampingnya. Tangan kanan taeyeon berada di punggung tiffany, sedangkan tangan kirinya berada di pundak sebelah kiri tiffany. Tiffany menatap kedua bola mata itu. Bola mata yang memancarkan kekhawatiran.

Gwencanha?” Tanya taeyeon lagi membuyarkan lamunan tiffany.

“A.ah ne” Tiffany sedikit kecewa taeyeon melepaskan rangukulannya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Tenggorokanku terasa kering” Ujar tiffany menunjukan gelasnya.

“Eonnie?” Lanjutnya.

“Aku akan mempersiapkan sarapan untuk kita semua”

“jinjja? Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu, eonnie”

“Tidak usah, sebaiknya kau istirahat. Aku akan membangunkanmu nanti”

“Tidak ada penolakan, eonnie” Uar tiffany dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. Membuat tawa taeyeon pecah seketika.

“Hahaa Baiklah baiklah. Jangan menatapku begitu. Itu tidak menyeramkan tapi terlihat menggemaskan. Aku jadi ingin mencubit kedua pipimu”

Blushh..

“Ja.jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, eonnie?”

“Hmm Kau cuci ini dan potong kecil-kecil, arra?”

“Siap komandan!!?” Ujar tiffany sambil mengangkat telapak tangannya hingga kedepan pelipisnya. Membentuk sikap seorang prajurit yang memberi hormat pada atasannya. Membuat taeyeon terkekeh melihatnya.

Taeyeon mulai mengiris, memotong, mengaduk, menumis, semua bahan yang diperlukan. Tiffany sempat tercengang melihat kepandaian taeyeon dalam memasak. Tersadar dari lamunannya, tiffany mulai mencuci wortel itu kemudian memotongnya jadi dua.

“Ya ya ya”

“Wae?”

“Jangan memotongnya begitu, bisa-bisa wortelmu terbang” Taeyeon mendekati tiffany, mengambil pisau dan wortel yang ada ditangan tiffany.

“Perhatikan ini, letakan seperti ini. Jangan meletakannya seperti tadi, bisa-bisa wortelmu terbang dan tanganmu terluka” Ujar taeyeon sambil terkekeh.screenshot_2017-05-01-13-06-021.jpg

Tiffany memperhatikan cara kerja taeyeon dengan serius. Sesekali ia akan mengangguk-anggukan kepalanya saat taeyeon menjelaskan cara memotongnya.

“Begini. Bisa? Jangan potong terlalu tebal, tapi juga jangan sampai terlalu tipis. Kau harus memotongnya sama besar. Agar mereka matang secara bersamaan saat kita masak nanti”

“Ne, eonnie” Ujar tiffany sambil tersenyum.

Degg

Taeyeon sempat terpaku melihat kedua bola mata yang indah itu dengan jarak sedekat ini. Jantungnya mulai berisik. Membuatnya sedikit gelisah apakah tiffany mendengar degupan jantungnya.

“I.inii cobalah dulu” Ujar taeyeon memberikan pisau dan wortelnya ketangan tiffany.

Mereka memasak dengan baik. Jika ada sesuatu yang tiffany tidak bisa taeyeon akan mengajarinya. Karena jujur, memang ini kali pertama tiffany berada didapur untuk memasak. Bahkan beberapa kali tiffany hampir saja melukai jarinya. Taeyeon yang melihat itu menyuruhnya untuk berhenti dan duduk saja melihatnya. Tapi bukan tiffany namanya jika ia tidak keras kepala. Ia tetap ingin membantu taeyeon, dengan menggunakan sedikit aegyo dan puppy eyesnya untuk membujuk taeyeon, membuat taeyeon menghela nafas. Ia hanya memberikan tiffany tugas-tugas kecil agar tidak mencelakai gadis itu.

Keasyikan memasak hingga mereka tidak sadar seseorang menatap mereka dengan tatapan terluka. Awalnya ia ingin jalan-jalan karena matanya tidak mau terpejam. Seharusnya ia tidak turun, agar ia tidak melihat kedekatan taeyeon dan tiffany. Dan sekarang ia menyesali keputusannya. Pada dasarnya ia sedikit ragu dengan apa yang dirasakan tiffany pada taeyeon. Tapi setelah melihat kedekatan mereka ini.. Ia takut. Yuri takut jika tiffany benar-benar menyukai taeyeon. Dan yang lebih ia takutkan jika taeyeon mempunyai perasaan yang sama pada tiffany. Tak ingin berlama-lama yuripun mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan. Perlahan ia membawa kakinya melangkah kembali kekamarnya.

“Pany-ah”

“Ne, eonnie?” Ujar Tiffany menoleh pada taeyeon.

“Bisa bantu aku?”

“Tentu” Ujar tiffany mendekat pada taeyeon.

“Tolong kau ratakan ini”

“Baiklah” Ujar tiffany lalu mulai melakukan apa yang disuruh taeyeon.

“Kau ini. Bukan begitu, kemarikan” Taeyeon berdiri dibelakang tiffany. Menggenggam tangan gadis itu. Menuntun tangan tiffany bergerak seirama dengan tangannya yang menggenggam tangan tiffany. Mengolesnya dengan perlahan. Jika dilihat dari belakang, akan terlihat seperti taeyeon sedang memeluk tiffany. Dan beruntunglah mereka tak ada seorangpun yang melihat itu.

th (17)

“Begini. Kau hanya perlu melakukannya dengan perlahan. Tak usah terburu-buru”

Degg

Degg

Tadi taeyeon dan sekarang tiffany. Degup jantungnya sungguh berisik. Jangan salahkan dia. Salahkan taeyeon yang membuat jantungnya berdetak tak karuan seperti ini. Membuat jantung itu berdetak tak seperti biasanya. Seperti jantung yang tak normal.

Ini menyiksanya. Tangan itu begitu lembut menggenggam tangannya. Dan jangan salahkan dia jika sekarang ia ingin lebih. Ia menginginkan gadis yang lebih tua itu. Bukan hanya sentuhan pada tangannya. Ia benar-benar menginginkan lebih. Tiffany menginginkan hatinya, ia mengingikan pelukannya, ia menginginkan ciumannya. Ia menginginkan taeyeon.. menginginkan taeyeon menjadi miliknya.

Perlahan tiffany menoleh kesamping. Menatap wajah taeyeon yang sangat mempesona. Wajah yang berhasil merebut seluruh perhatiannya. Rahang yang tegas, hidung yang mancung, mata teduhnya, kulitnya yang putih, dan jangan lupakan bibir yang imut sekaligus sexy itu.

“Eonnie?”

“Ne?” Taeyeon menoleh pada tiffany. Ia sempat tersentak karena jarak wajah mereka sangat dekat. Apa lagi dengan posisi mereka yang seperti ini.

“Aku..”

“Wae?” Taeyeon jadi gugup melihat mata tegas tiffany menatapnya.

“Aku.. Sepertinya aku meny-”

“Taeng” Dengan cepat taeyeon menjauh dari tiffany.

“A.ahh ne. Sunny-ah. Wa.ae?”

“Ani, aku hanya ingin melihat apa makanannya telah siap” Sunny mendekati keduanya.

“A.aah ya, aku akan menyusunnya” Taeyeon menggaruk tengkuknya. Sesekali melirik kearah tiffany yang hanya menunduk.

“Kenapa wajah kalian memerah? Apa yang kalian lakukan?” Ujar sunny dengan tatapan menyelidik.

“M.mwo? A.apa yang kami lakukan? Kami tidak melakukan apa-apa?” Ujar taeyeon terbata.

“Aku.. aku akan menyiapkan mejanya eonnie” Ujar tiffany lalu pergi meninggalkan taeyeon dan sunny.

“Wae!? Kenapa kau menatapku begitu!?”

“Kau pikir aku tidak melihatnya?” *smirk

“!!”

“Melihat apa?” Lirih taeyeon

“Tentu saja kau dan tiffany. Apa yang kalian lakukan?” Sunny mendekat dengan senyuman menggoda yang membuat taeyeon mundur selangkah.

“Ya!! Jangan menatapku begitu. Aku hanya.. hanya membantunya. Ayolah.. jangan berfikiran macam-macam sunny-ah”

“Berfikir macam-macam apanya?”

“Lagi pula.. jika kau dan tiffany ada ekhm jika kalian ada hubungan special pun itu tak masalah untukku” Lanjut sunny.

“Ne!?”

“Yaa tiffany sudah besar dia bisa menentukan pilihannya sendiri. Dan kau juga sudah tua, kau tau yang terbaik taeng”

“Apa yang kau maksud!? Kami tidak ada hubungan seperti yang kau kira! Dan jangan mengataiku tua!!” Ujar taeyeon dan berlalu begitu saja dari hadapan sunny.

“Aaah satu lagi. Kau angkat semua makanan ini ke atas meja. Aku akan membangunkan yang lain” Ujar taeyeon tanpa menghentikan langkahnya.

“Mwo!? Ya!! Kenapa jadi aku!? Aisshh”

***

“Woaa.. masakanmu enak taeng”

“Aku tak tahu jika ada makanan yang tak enak untukmu soo” Ujar sunny yang membuat tawa yang lainnya pecah.

“Kau benar sekali sunny-ah. Aku sudah lama berteman dengannya. Dan tetap saja aku tidak tahu makan apa yang ia tidak sukai”

“Kau diam saja!! Kau tidak boleh menghinanya!! Hanya aku yang boleh” Desis sunny. Seketika taeyeon menghentikan tawanya..

“Huahaa Rasakan kau taeng. Aku tidak akan marah jika itu kau, bunny” Ujar sooyoung memberikan wink-nya pada sunny.

“Kau tidak asik sunny-ah” Ujar taeyeon sambil cemberut.

“Aah iya. Tadi tiffany yang membantuku memasak semua ini” Lanjut taeyeon.

“Jinjja?” Tanya jessica dengan wajah tidak percaya.

“Ada apa dengan wajahmu itu jessie?”

“Ani. Hanya saja.. kau membantu memasak?”

“Wae?’ Tanya taeyeon

“Tentu saja itu aneh. Mana pernah tiffany berada didapur untuk memasak” Ujar jessica

What the hell, jung!!’

Jinjja? Apa kau belum pernah memasak sebelumnya, pany-ah?” Ujar taeyeon menatap tiffany. Bukan hanya taeyeon tapi seluruhnya yang berada di meja makan itu.

“Hmm ne eonnie. Tadi pertama kalinya”

“Woaa senang bisa menjadi yang pertama menemanimu memasak, pany-ah” Ujar taeyeon sambil tersenyum kearahnya.

Kau memang yang pertama eonnie’

Aku hanya melakukan hal-hal kecil, eonnie” Ujar tiffany sedikit tersipu. Itu jelas sekali. Terutama untuk gadis yang duduk dihadapannya. Yuri.. yuri menatap sedih pada tiffany yang tampaknya sangat senang dengan setiap kalimat yang taeyeon lontarkan kepadanya.

Flashback

“Yul~”

“Jangan menggangguku. Aku sedang mengerjakan tugas dari Mr. Joen” Ujar yuri tanpa mengalihkan pandangan dari laptop dihadapannya.

“Tapi yul.. Aku lapar~” Mendengar itu, yuripun menghentikan aktifitasnya. Menatap tiffany yang juga menatapnya penuh harap.

“Heol~ Baiklah, kajja. Aku akan membuatkan sesuatu” Ujar yuri beranjak dari kursinya

“Yaayy”

“Jangan senang dulu, kau harus membantuku memasak”

“What!? Memasak!? Tidak tidak, aku tidak akan membantumu, euw”

“Ya! Kau akan jadi seorang Istri dan seorang ibu. Bagaimana mungkin kau tidak mau memasak”

“Kalau begitu aku akan mencari suami yang pintar memasak” Jawab tiffany dengan senyum tanpa dosa.

“Tapi-”

“Sudahlah, tak ada tapi-tapian. Aku akan melihatmu memasak dari sini. Cepatlah, aku sudah lapar!”

Flashback end

Ting

Aku selesai. Mian, aku permisi dulu” Semua menatap yuri yang berdiri dari kursinya.

“Mau kemana, yul?”

“Aku sedikit tidak enak badan” Ujar yuri dengan senyum yang dipaksakan.

“Gwencanha yul? Apa perlu ku panggilkan dokter? Makananmu juga belum habis yul” Tegur taeyeon.

“Gwencanha, aku hanya sedang tidak enak badan. Aku sudah kenyang, imo” Ujar yuri dengan senyum tipisnya lalu meninggalkan mereka yang menatapnya heran.

“Ada apa dengannya? Aku rasa dia jadi sedikit pendiam. Biasanya dia sangat heboh. Apa kalian tahu sesuatu?” Ujar taeyeon menatap bergantian tiffany dan jessica.

“Aku tidak tahu eonnie. Aku juga merasa begitu, ada yang aneh padanya. Nanti akan aku tanyakan eonnie” Ujar tiffany

“Sica?”

“Aku.. aku tidak tahu eonnie. Mungkin memang karena dia tidak enak badan eonnie. Bukankah kita baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh” Terang jessica.

“Benar juga”

“Aah iya. Nanti malam ada festival kembang api apa kalian ingin melihatnya?” Lanjut taeyeon.

“Jinjja!!? Woahh kita harus kesana bunny” Ujar sooyoung menatap sunny penuh harap.

“Ne!?” Ujar sunny sedikit kaget.

“Festival kembang api. Kita harus kesana nanti malam, ne?” Sooyoung menggenggam lembut tangan sunny. Mengelus punggung tangan sunny dengan ibu jarinya. Membuat sunny tersipu. Sunny tidak menyangka jika setelah selama ini sooyoung tetap lembut padanya. Walaupun kadang sunny kasar padanya, tetap saja sooyoung yang akan mengalah. Membuat bunga cinta dalam hati sunny semakin hari semakin mekar untuk sooyoung. *huahaha kalimatnya waduuhh

“A.ara kita akan pergi” Sunny mengalihkan pandangannya dari sooyoung dan terlihatlah taeyeon yang menatap mereka dengan wajah konyolnya.

“Kenapa menatapku begitu!!?”

“Ani. Hanya menyaksikan anak remaja yang pacaran dan salah satunya tersipu malu” Ujar taeyeon dengan cengirannya.

“Lebih baik kami. Dari pada kau yang tidak laku-laku, taeng” Cibir sooyoung.

“Yakk!! Neo!! Apa kau lupa berapa banyak dari mereka yang mengajakku kencan. Hanya saja belum ada yang menarik perhatianku. Kau tunggu saja, aku pasti akan mengenalkan kekasihku nanti padamu. Dan yang pastinya dia lebih CANTIK dan TINGGI dari kekasihmu itu”

“Yakk!!-”

“Sudahlah eonnie. Ada apa dengan kalian? Kenapa bertengkar terus?” Ujar tiffany menghentikan perdebatan mereka. Sunny masih menatap tajam taeyeon. Taeyeon menjulurkan lidahnya sebelum beralih menatap tiffany dan jessica.

“Jadi bagaimana, apa kalian akan ikut?”

“Ne, aku akan ikut eonnie” Ujar tiffany

“Jam berapa festivalnya akan dimulai?” Tanya sooyoung

“Sekiatar jam 8 nanti. Dan sepertinya aku tidak ikut” Ujar taeyeon.

“Wae eonnie?”

“Yul sedang sakit, aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Aku akan menemaninya  disini, pany-ah” Disatu sisi tiffany menghawatirkan yuri, disisi lain tiffany kecewa mendengar taeyeon tidak ikut dengan mereka. Ia fikir ia akan dapat menghabiskan banyak waktu dengan taeyeon. Tapi ternyata taeyeon tidak ikut.

Seharusnya tadi aku mengatakan ‘tidak’ agar aku bisa menjaga yuri bersama taeyeon eonnie’

“Biar aku saja yang menemani yul, eonnie. Aku.. aku sedang tak ingin kemana-mana” Ujar jessica membuat perhatian mereka teralihkan padanya.

“Ne?”

“Aku.. aku sedang tak ingin kemana-mana. Jadi, kau pergilah dengan yang lain, eonnie”

“Apa tak apa?”

“Gwencana”

“Baiklah kalau begitu”

***

“Woaaa ramai sekaliii” Takjub sunny.

Akhirnya hanya mereka berempat yang pergi ke festival kembang api itu. Sunny dan sooyoung berjalan didepan dengan bergandengan tangan. Sedangkan tiffany dan taeyeon berjalan di belakang mereka. Tidak ada percakapan. Sedikit canggung memang. Taeyeon bingung bagaimana cara memulai percakapan mereka. Sedangkan tiffany merasa berada disamping taeyeon lebih membuatnya gugup dari pada mengikuti ujian semester.

“Bunny-ah, kajja kita kesana” Tunjuk sooyoung ketempat dimana berderetnya orang-orang menjual makanan.  Sooyoung menarik tangan sunny, memaksanya untuk berjalan dengan cepat.

“Yak!! Kalian mau kemana!?” Teriak taeyeon.

“Biarkan saja eonnie. Bagaimana kalau kita kesana?” Ujar tiffany.

“Baiklah, kajja”

Mereka melihat beberapa permainan. Banyak permainan unik disana. Tiffany berhenti saat melihat suatu yang menarik perhatiannya. Membuat taeyeon juga menghentikan langkahnya.

“Apa yang kau lihat?”

“Aah ani. Itu, bonekanya cantik” Tunjuk tiffany pada boneka beruang pink yang berada dipojok ruangan yang kecil itu.

“Kau mau?”

“Ne?”

“Ahjussi, aku ingin main” Ujar taeyeon. Ahjjusi itu pun memberi sebuah senapan pada taeyeon.

“Kau lihat caraku bermain, ne?” Ujar taeyeon melirik tiffany dengan seringainya.

Pukk

‘Sial, meleset’

“Kau tenang saja eonnie, aku tidak melihatnya” Ujar tiffany sambil menahan tawanya.

“Aish Itu baru pemanasan, lihat ini” Taeyeon mulai membidik sasaran itu lagi dengan fokus.

Pukk

Pukk

Sial’

Eoh apa kau sudah menembaknya eonnie?” Tanya tiffany seolah tidak melihat tembakan taeyeon yang lagi-lagi meleset itu.

“Ne!! Sudah! Tembakanku meleset, puas!?” Ujar taeyeon cemberut.

“Hahaa kenapa marah?”

“Tidak tahu. Ahjjusi berikan aku senapan baru”

Taeyeon terus mencoba hingga ini sudah senapan ke-6 yang digunakannnya. Semuanya meleset. Taeyeon juga kesal karena tiffany yang terus meledeknya.

“Aiishh!!”

“Sudahlah eonnie. Kajja kita melihat yang lain”

“Tidak! Aku tidak akan menyerah sebelum aku mendapatkannya. Ahjjusi, lagi”

Taeyeon mulai membidik. Mencoba untuk tenang. Saat akan menekan pelatuknya, konsentrasi taeyeon pecah. Ia merasakan sepasang tangan mencengkram pelan pundaknya. Terasa hembusan nafas hangat menggelitik lehernya. Ia bahkan bisa merasakan sesuatu yang empuk menempel pada punggungnya. Membuat taeyeon dengan susah melelan salivanya.

“Kau harus konsentrasi, eonnie” Bisik tiffany.

Bagaimana aku bisa konsentrasi jika seperti ini’

“Bidik dengan tepat. Ambil nafas dan buang secara perlahan. Jika sudah merasa kau akan mengenainya, tarik pelatuknya dan kemudian lepaskan” Walaupun sulit berkonsentrasi dengan posisi mereka seperti ini, taeyeon tetap melakukan perintah tiffany.

Pukk

“Woaa aku berhasil!! Aku tahu, aku hebat dengan permainan ini!!” Ujar taeyeon sambil menggenggam tangan tiffany. Membuat senyum tiffany pun ikut mengembang. Tidak hanya sentuhan pada tangannya tapi ia juga senang melihat semangat taeyeon dan wajah lucu gadis yang lebih tua darinya itu.

“Arra-”

Brukk

“Woaa kenapa aku senang sekali. Kau juga hebat pany-ah” Ucapan tiffany terpotong karena tiba-tiba taeyeon memeluknya dengan erat. Tiffany tentu terkejut dangan pelukan tiba-tiba itu. Tubuhnya membeku, bahkan ia tidak membalas pelukan dari taeyeon.

Merasa tak dapat balasan dari tiffany, taeyeon baru sadar apa yang telah ia perbuat. Dengan cepat taeyeon melepaskan pelukannya dari tiffany. Taeyeon jadi kikuk. Ia merutuki perlakuan bodohnya itu. Sungguh konyol memeluk seseorang hanya karena berhasil memenangkan permainan kecil.

“Hmm Pa.pany-ah.. Maafkan aku, aku tidak sengaja. Aku hanya terlalu senang” Taeyeon menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Gwencanha eonnie. Kenapa harus minta maaf, seperti melakukan kejahatan saja” Ujar tiffany saat nyawanya telah kembali, karena tadi rasanya nyawanya melayang entah kemana.

“Ahh ahjjusi aku ingin boneka itu” Tunjuk taeyeon pada boneka tadi. Paman itupun langsung mengambilnya dan memberikannya pada taeyeon.

“Ini. Kalian pasangan yang lucu. Aku doakan agar kalian tetap selalu bersama”

“Ah kami hanya-”

“Gomawo ahjjusi” Ujar tiffany membungkuk lalu menarik taeyeon dari sana.

***

Ceklek

Yuri menoleh mendengar pintu kamarnya dibuka.

“Sica?” Jessica tak menjawab yuri. Ia melangkah masuk dan menutup pintu kamar yuri.

“Ada apa? Kau  butuh sesuatu?” Tanya yuri lagi.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu” Ujar jessica duduk di tepi kasur yuri

“Ne?”

“Bukan kah kau sedang tidak enak badan. Apa kau butuh sesuatu?”

“Aah itu, tidak. Aku hanya butuh istirahat” Ujar yuri mendekat dan duduk di sebelah yuri.

“Hm begitu”

“Ne. Kau dapat bergabung dengan yang lainnya”

“Apa kau mengusirku?” Jessica menatap tajam yuri.

“Aish jijja, jangan menatapku begitu. Aku hanya bertanya” Ujar Yuri cemberut.

“Hahaa bercanda. Lagi pula mereka sudah pergi”

“Pergi? Kemana?”

“Taeyeon eonnie  bilang ada festival kembang api, jadi mereka pergi kesana”

“Kenapa kau disini?”

“Kau mengusirku lagi”

“Ya! Ada apa denganmu sica-ah? Aku hanya bertanya”

“Hahaa wajahmu lucu sekali kwon. Belakangan ini aku tak melihatnya, kau jadi pendiam. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa”

“Kau tahu? Mereka menghawatirkanmu”

“Untuk apa menghawatirkanku” Ujar yuri terkekeh.

“Tentu saja, kau teman kami. Taeyeon eonnie bibimu”

“…”

“Kau tahu? Jika ada apa-apa kau bisa bicara denganku. Aku pintar menjaga rahasia” Ujar jessica membuat yuri menatapnya. Tangan itu terangkat dan mengacak-acak rambut jessica

“Hahaa aku tak tahu kau  bisa bicara begitu”

“Belakangan ini aku juga tidak mendengar tawamu itu” Ujar jessica lagi membuat yuri menghentikan tawanya.

“Apa maksudmu sebenarnya sica-ah”

“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin kau membagi sedikit masalahmu”

“…”

“Aku sedang menyukai seseorang” Yuri menghela nafas kasar. Jessica menoleh padanya. Melihat wajah serius itu dari samping.

Aku tahu’

“Lalu?”

“Dia menyukai orang lain”

“Begitu. Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak tahu. Semua terasa salah. Jika aku mendekat, aku takut kehilangannya. Jika aku diam, aku juga akan kehilangannya. Jadi menurutmu… apa yang harus aku lakukan?”

“Aku tidak tahu” Jawab jessica cepat.

“Ne!? Aku pikir kau akan memberi saran yang bagus” Ujar yuri menatap datar jessica.

“Hahaa kau tahu? Kau lebih tahu dari siapapun apa yang harus kau lakukan. Lakukanlah apapun itu, jika kau merasa itu benar”

“Ya sudah. Kalau begitu aku kekamarku dulu. Bye, hitam” Lanjut jessica.

“Ya!! Beraninya kau bicara begitu kemari kau”

Blamm

Belum sempat yuri menangkapnya, jessica sudah lebih dulu hilang dibalik pintu itu

“jinjja anak itu”

Dibalik pintu jessica bersandar. Ia memegang dadanya yang terasa perih

Kau sudah mengakuinya, yul’

***

Mereka memainkan banyak permainan hingga lupa jika mereka pergi dengan pasangan soosun. Mereka juga membeli permen kapas, es krim dan yang lainnya.

“Huu~ Tteokbokki ini panas sekali”

“Sini. Huu~ huu~” Taeyeon mengambil potongan Tteokbokki yang ada di tangan tiffany dan meniupnya. Lalu menyodorkannya, tepat didepan bibir tiffany.

“Aaaa~” Dengan senang hati tiffany menerima suapan dari taeyeon.

“Mashita?”

“Em mashita” Ujar tiffany mengangguk sambil terkekeh.

Akhirnya tiba waktunya acara puncaknya. Mereka duduk di rerumputan, menatap lurus kedepan. Kearah danau yang gelap gulita itu.

“Tck.. Kemana mereka?”

“Mungkin sooyoung eonnie dan sunny eonnie disekitar sini” Memang disana sangat ramai. Banyak dari mereka yang mengambil tempat untuk melihat kembang api.

Wussh

Duaarr!!

Wussh

Duaarr!!

“Woaa Yeppuda” Ujar tiffany. Membuat taeyeon menatap ke arah tiffany yang tengah menatap kagum letusan-letusan kembang api itu.

“Ne. Yeppo” Ujar taeyeon tersenyum lalu mengalihan pandangannya ke danau yang kini tampak terang tiap ada letusan kembang api.

.

.

Jalanan sepi. Taeyeon dan tiffany memutuskan pulang walaupun mereka belum menemui keberadaaan pasangan soosun.

Wushh

Brrr

Taeyeon melihat ke arah tiffany yang menggosok kedua tangannya. Sesekali meniupnya, agar dapat sedikit menghangatkannya.

Screenshot_2017-05-02-17-27-26[1]

“Seharusnya kau pakai beju yang tebal pany-ah” Ujar taeyeon sambil melepaskan jaket kulit miliknya.

“Apa yang kau lakukan eonnie?”

“Sudahlah, diam saja” Ujar taeyeon lalu memakaikan itu pada tiffany.

“…” Tiffany menatap taeyeon yang begitu serius merapikan jaket yang kini berada dipundaknya.

“Jaa~”

“Gomawo” Ujar tiffany tersenyum

“Hm” Taeyeon mengangguk dan membalas senyuman tiffany.

th (99)

***

Taeyeon mengantarkan tiffany sampai depan pintu kamarnya. Memang kamar mereka bersebrangan.

“Hmm Masuklah”

“Eum ne, eonnie”

Saat taeyeon berbalik, ia baru sadar jika boneka beruang tadi ada padanya.

“Chamkaman pany-ah” Ujar taeyeon membuat tiffany berbalik.

“Ini” Taeyeon mengulurkan beneka itu didepan tiffany.

“Untukku?”

“Tentu saja. Kau pikir untuk siapa aku dengan susah payah memenangkan permainan itu”  Ujarnya cemberut. Tiffany tentu dengan senang hati mengambilnya.

“Gomawo, eonnie”

“Ne, sekarang masuklah” Suana jadi aneh. Kedunya tampak malu-malu. Mereka tampak seperti anak remaja yang baru pulang kencan pertama mereka.

“Arraseo” Ujar tiffany dan maju selangkah hingga..

Chu~

Taeyeon tersentak merasakan benda lembut itu menyentuh pipinya. Ia terdiam, perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh pipinya yang baru mendapat hadiah bibir tiffany. Tiffany terkekeh melihat ekspresi terkejut taeyeon.

“Jalja eonnie” Ujar tiffany lalu meninggalkan taeyeon yang mematung disana. Taeyeon menatap pintu yang baru saja dimasuki tiffany. Perlahan senyum mengembang diwajahnya.

“Jaljja pany-ah”

Ceklek

Dengan pelan yuri menutup pintu itu. Tubuhnya jatuh begitu saja. Menyandar pada pintu kayu itu sambil menekuk kakinya. Menatap sebuah foto tiffany dengan dengan dirinya dengan sedih. Perlahan air matanya jatuh. Pertama kalinya semenjak Mrs kwon meninggal. Air mata itu.. kini jatuh lagi.

th (100)

Sepertinya aku sudah kalah’

***

“Ya kalian kemana saja semalam?” Ujar sunny yang baru masuk kedalam mobil bersama sooyoung. Mereka pulang sekarang. Ya, besok taeyeon dan sunny ada pertemuan penting.

“Kalian yang kemana?”

“Kami mencoba berbagai makanan” Ujar sooyoung.

“Kami? Hanya kau, youngie” Cibir sunny membuat semua tertawa.

Ceklek

“Anyyeong, eonnie” Ujar tiffany yang baru masuk. Ia duduk disamping taeyeon. Sekarang tanpa taeyeon memintanya.

“Anyeong pany-ah” Ujar taeyeon tersenyum. Taeyeon sedikit malu jika ia mengingat hal semalam.

“Sudah semua bukan?” Tanya taeyeon

“Ne”

“Periksalah dulu. Apa ada yang tertinggal” Ujar taeyeon lagi.

“Sudah” Ujar yang lainnya serempak.

“Ok, berangkat”

Seperti kemarin. Yang lainnya tertidur meninggalkan taeyeon dan tiffany. Sejak kemarin mereka jadi lebih akrab. Bicara pun jadi lebih santai. Taeyeon mengantarkan mereka satu-persatu. Pasangan soosun, yuri dan jessica. Sekarang tinggal taeyeon dan tiffany yang berada didalam mobil.

“Yang ini tiff?” Ujar taeyeon berhenti disebuah rumah yang megah.

“Ne eonnie. Gomawo”

“Bukan hal yang besar” Ujar taeyeon tersenyum. Tiffany kesulitan membuka sabuk pengaman-nya.

“Wae?”

“Sepertinya macet”

“Huh?” Taeyeon mendekat mencoba membantu tiffany. Tak sengaja tangannya menyentuh tangan tiffany. Tiffany menoleh menemukan taeyeon yang juga menatapnya. Keduanya terhanyut dalam tatapan itu. Tiaffany jatuh kedalam mata indah taeyeon. Begitupun taeyeon ia berfikir, selain kepribadian paras tiffany sangatlah sempurnya.

Entah apa yang mendorongnya perlahan taeyeon mendekatkan wajahnya pada tiffany. Saat jarak wajah mereka hanya berjarak 5 cm, taeyeon jadi ragu. Ia memundurkan kembali wajahnya, detik itu juga tiffany menutup matanya.

Melihat itu, taeyeonpun kembali memajukan wajahnya. Hingga hidung mereka bersentuhan. Taeyeon memiringkan wajahnya. Dahi mereka bertemu. Nafas taeyeon tercekat.

Chu~

Bibir itu mendarat sempurna pada bibir milik tiffany. Taeyeon hanya mendiamkannya. jantung keduanya begitu berisik. Ini yang pertama untuk tiffany. Merasakan sensasi aneh pada tubuhnya. Tubuhnya terasa terbakar, dadanya terasa mau meledak, mendadak ia tak tahu cara bernafas.

Cukup lama dengan posisi seperti itu, taeyeon yang pertama mengakhiri ciuman mereka. Masih dengan jarak yang dekat. Taeyeon menatap tiffany. Menunggu reaksi apa yang akan diberikan gadis itu. Apa ia akan menampar taeyeon? Tidak, justu taeyeon melihat senyuman terukir diwajahnya. Membuat taeyeon lega dan juga kut tersenyum.

“Aku.. aku-hmph”

Bibir itu kembali bertemu. Sekarang bukan taeyeon, tiffany lah yang memulainya. Taeyeon mengangkat tangannya menangkup pipi tiffany. Perlahan ia mulai menggerakan bibirnya. Menyesapnya, menghisapnya dengan perlahan. Tiffany mengikuti tempo yang diberi taeyeon.

Taeyeon menggunakan ibu jarinya untuk mengusap pipi tiffany. Sedangkan tiffany meremas lengan jaket taeyeon. Keduanya begitu menikmati bibir masing-masing. Taeyeon menghisapnya dengan bergantian. Mulai dari bibir bawah hingga ia beralih ke bibir atas tiffany.

“Nnggh” Keduanya melenguh.

Sesekali mereka akan memiringkan kepala mereka untuk mencari posisi yang pas. Merasa membutuhkan oksigen taeyeon pun melepas ciuman mereka.

“Hah hah hah” Mafas mereka memburu dengan dahi yang menyatu. Taeyeon tersenyum begitupun tiffany.

“Aku-“

Beeb beeb

“Daddy”

“Sepertinya kau harus turun” Ujar taeyeon dengan tersenyum. Membantu tiffany membuka sabuk pengamannya itu.

“Ne, kalau begitu aku masuk. Hmm Gomawo”

***

“Hahaa kau tahu? Kau lebih tahu dari siapapun apa yang harus kau lakukan. Lakukanlah apapun itu, jika kau merasa itu benar”

“Aku bahkan tak tahu apa yang harus ku lakukan” Yuri terkekeh mengingat apa yang dikatakan jessica.

“Kenapa sulit sekali fany-ah” Air mata itu jatuh lagi, ini yang kedua kalinya.

“AKU MENCINTAIMU TIFFANY HWANG hiks.. hiks.. WAE!? Kenapa sulit sekali mengatakannya padamu!!”

BUKK

Yuri memukul kaca itu hingga retak. Ia tak menurunkan tangannya.  Membiarkannya berada disana. Perlahan darah segar mengalir di beberapa retakan kaca dibawah kepalan tangan yuri.

“Apa kau tak melihatnya!? hiks.. Apa kau tak merasakan-nya!? AKU MENCINTAIMU TIFFANY HWANG hiks.. hiks.. aku mencintaimu”

Yuri tak sadar jika seseorang melihatnya dari balik pintu kamarnya yang terbuka. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui yuri. Ia justru berbalik menjauh dari pintu itu. Menuruni setiap tangga dengan perlahan. Pandangannya terlihat kosong. Pikirannya kemana-mana. Bagaimana hubungannya dengan tiffany? Bagaimana hubungannya dengan yuri? Bagaimana hubungan yuri dengan tiffany?

“Taeng? Kau tak jadi menemui yuri?” Suara itu mengalihkan perhatiannya.

“Aku.. aku dapat panggilan, kantor. Aku akan kembali lain waktu, oppa” Ujar taeyeon memaksakan senyumannya. Ia memeluk jiwoong sebentar sebelum keluar dari rumah megah itu. taeyeon mempercepat langkahnya. Matanya terasa panas.

Apa yang telah aku lakukan’

.

.

.

.

.

Tebecehh

Haii chingguuuuu, ketemu lagiii..

Oiya aku post sekarang karena besok aku mau pergi kesuatu tempat yaaaang disana jaringannya jelek bgt Hahaha jadi ga tau apa bisa post disana. Dan itu satu bulan huahahaa..

Satu lagi, kayanya aku bakalan abisin dulu L.O.V.E ini abis tu baru lanjut EHC. Biar ga bingung aja kalian bacanya..

Ok segini duluu

Ci yuhh neks taiimmmm

THANKS TO ETERNITY HAPPINESS

Pappay…

 

Advertisements

38 thoughts on “L.O.V.E (3)

  1. Konflik sdah mulai muncul ni, psti nnti taeng mngalah sm yul dan psti fany jdi bingung mau pilih mna, ksihan sm sica nggak di lirik yul sdikit pun. Smoga taeny dan yulsic brsatu 😂😂 dan smoga konfliknya nggak rumit2 bgnt

    Like

  2. yahh lama dong thor, mau kkn ya? atau liburan?
    tapi semoga aja sinyalnya bagus jd bisa update
    penasaran kelanjutannya gimana, udah seneng tuh taeny makin deket malah udah skinship tahap ciuman tapi pas baca mau tbc keliatannya tae bakal ngalah buat yuri 😭

    Like

    • Hahaa aku blm wktunya kkn dan aku jga ga tau apa ini bisa dibilang liburn wkwkwkwk
      Ada sinyalnya tapi aku harus jaln dilu sekitar 1 kilo -_- kaya sekarang ni
      Sekarang ini aku cuma bisa bilang ‘sabar’ wkwkk

      Like

  3. Gue degdegan 😭 astaga plisss taeng parah banget kalo ninggalin tiffany. Walau yuri suka tetep ajaaa jangan gituuuu 😭😭😭 harus diperjuangin taeng! Dia shock gitu astagaaa

    Like

  4. Nie berabe kl Tae ngalah ma Yuri, akan bnyak hati yang terluka. Kl Yuri yg ngalah hanya Yuri yg terluka dan cpt sembuh krn ada sica yg ngobati luka Yuri. Takdirnya Taeny dan Yulsic

    Like

    • Kalo suka komen terus ya~
      Ga gaje ko, bahkan cuma titik (.) aja yg kamu tulis dikolom komentar itu ga masalah buat aku, karna itu menandakan kamu hadir buat baca ff aku 😁😂 dan aku ngerasa dihargai
      #curhat hahahha

      Like

  5. Suka momen taeny pas main senapan,, semangat mang perjuangin sstu buat org yang di sayang apalagi klo berhasil tapi pas giliran mleset nyesek bnget ,,
    Yah,, nambah mslh lg nih,, pke ketauan tae thor,, hehe, , 😀
    tae galau lg,, bingung lg,, ksian fany jg nih klo jd ngambang thor,,
    Semangat thor,, met aktifitas

    Like

  6. Yul bs gak sedikit saja mandang sica. Lu mau phany menyadari perasaanmu pdnya tapi lu gk menyadari perasaan sica pdmu kalian brtiga sama aja wkhahahaaaa. Taeng pastilah bakalan jauhin phany. Gimana perasaan phany ye tae udah mengambil (?) ciuaman prtamanya kan.
    Inilah kisah cnta segi empat wkhahaaa

    Like

  7. Jgn bilang tae bakalan mundur setelah apa yg di denger barusan😐 gimna dgn perasaan pany, tae? Pasti bakalan sakit jika tae menghindar😧

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s