09-03-1989

Screenshot_2017-06-10-11-46-53-566.jpeg

Photo belong to: @mynameisqin

“Sayang.. aku pulang!” kata-kata itu kuucapkan seiringan dengan kakiku yang melangkah masuk ke dalam rumah.

Lampu ruang tamu masih belum menyala sehingga keremangan itu yang menyambutku, bukan dia yang biasanya sudah berlari menghampiriku jika aku berteriak padanya memberitahukan kepulanganku.

“Sayang, kau ada dimana?” teriakanku bergaung kembali sedangkan yang dipanggil tak memberikan respon apapun. Penasaran, kujelajahi lagi rumah kecil kami.

Pertama kuhampiri dapur, tempat makanan, minuman serta hidangan favorit lainnya diproduksi oleh istriku.

Kedua, ruang kerja kami berdua, lebih tepatnya ruang kerja istriku karena wanitaku itu mengelola perusahaannya dari rumah semenjak dia memutuskan untuk fokus mengasuh putri kembar kami -Nayeon dan Siyeon-  10  tahun yang lalu.

Ketiga, taman di halaman belakang, tempat malaikat-malaikatku bermain dan bersantai. Terakhir, tentunya sarang cintaku bersama wanita yang paling kucintai, istriku.

Tak terasa sudah 16 tahun rumah tangga itu kujalani bersama seorang wanita yang tidak pernah kusangka dapat menjadi  sahabat, kekasih, istri, ibu dari kedua malaikatku, pelepas lelah dan penatku, penasihat pribadi, manajer, dan yang paling penting.. cinta dalam hidupku.

Sejak dulu aku dan istriku terkenal tidak akur.

Tiffany Hwang adalah salah satu saingan terberatku baik di bidang akademis dan bidang lainnya.

Kami selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Dia hampir sama denganku, memilki tampang dan kemampuan otak diatas rata-rata yang diwariskan oleh orangtua kami.

Aku dan istriku bagaikan kucing dan anjing.

Dimana ada dia pasti aku langsung kabur begitupun sebaliknya. Namun hal yang paling lucu adalah kedua orang tua kami sebenarnya bersahabat sehingga mau tidak mau kami harus selalu memasang wajah bahagia serta senyum kepuasan jika aku dan Tiffany sedang bersama padahal di dalam hati masing-masing, keinginan untuk membunuh satu sama lain sudah muncul dan semakin meningkat.

Alasanku membenci Tiffany… heumh… coba kupikirkan.. apa ya?

Sebenarnya tidak ada alasan yang jelas mengapa aku membenci wanita yang selalu membuatku berhasil memikirkannya tiada henti. Apalagi sejak dia jatuh dan secara tidak sengaja menempelkan bibirnya ke milikku yang masih polos, suci dan miskin dosa.

Rasa lembut dan wangi buah strawberry dari bibirnya membuat aku tidak bisa tidur hari itu sehingga besoknya, aku tidak bisa fokus dalam mengisi soal latihan ujian masuk ke sekolah menengah atas impianku.

Semenjak kejadian itu rasanya hidupku terasa kacau karena fokusku selalu berkurang jika mataku sudah menatap bibir merah muda berisinya yang selalu terlihat segar dan bersinar.

Tuhan seperti ingin aku selalu bersamanya karena Tiffany diterima di sekolah yang kuincar sejak dulu. Bahkan selama 3 tahun, kami selalu ditempatkan di kelas yang sama dengan posisi aku sebagai ketua kelas dan dia sebagai wakilnya.

Tak cukup itu, di organisasi sekolah yang kami ikutipun, aku dan Tiffany selalu ditempatkan di satu divisi seberusaha apapun kami mencoba menghindarinya. Tiada hari tanpa mencela, itulah yang Tiffany dan aku  lakukan jika kami bertemu atau berada dalam acara yang sama.

Tiffany mulai tidak menggangguku lagi sejak dia berpacaran dengan Gray di tahun kedua kami.

Perhatianku juga sedikit teralihkan karena pada saat itu Seolhyun –gadis yang kusukai sejak pertama kali aku meihatnya pada masa orientasi siswa di sekolah kami– mau menerima permintaanku untuk menjadi kekasihnya.  

Hingga akhirnya kami lulus, Tiffany dan aku tidak saling menghujat satu sama lain karena fokus dan perhatian kami tersita oleh kegiatan sekolah, kehidupan sosial di organisasi dan lingkungan luar, serta kehidupan cinta kami masing-masing.

Aku sangat bahagia ketika mengetahui bahwa Tiffany tidak berada di fakultas atau jurusan yang kuambil. Teknik elektronika industri kuambil sebagai konsentrasi belajarku sedangkan Tiffany memilih textiles, merchandising, and fashion design sebagai jurusan yang diambilnya sama seperti Seolhyun.

Rasanya hidup begitu bebas saat itu meskipun aku kadang masih bisa melihatnya ketika  mengantar atau menjemput kekasihku ke kelasnya. Terkadang aku juga melihatnya di acara badan eksekutif mahasiswa bersama dengan kekasihnya yang baru, Choi Siwon, salah satu mahasiswa terbaik di angkatan kami.

Hidupku kembali kacau ketika suatu hari aku melihat Tiffany hampir dilecehkan secara seksual oleh Siwon. Itu terjadi di tahun kedua kehidupan universitasku.Riasan dan busana yang Tiffany kenakan saat itu terlihat kacau.

Kejadian itu terjadi pada tengah malam di salah satu ruangan yang biasa digunakan oleh para anggota badan eksekutif mahasiswa untuk bersantai.

Menjadi ketua membuat Siwon mendapatkan fasilitas ruangan sendiri. Waktu itu aku akan menyerahkan anggaran dari divisi tempatku berada saat pria brengsek itu sedang melampiaskan nafsu birahinya pada Tiffany yang mencoba menolak.

Meski aku membencinya, tapi aku tidak mau Tiffany diperlakukan seperti itu. Dia adalah seorang wanita yang seharusnya diperlakukan dengan baik dan dihormati oleh kekasihnya, seperti wanita pada umumnya.

Wajah Siwon babak belur setelah aku menghajarnya. Tidak ada yang mengetahui kejadian itu selain aku, Tiffany dan si brengsek itu karena mahasiswa lain sedang berkumpul di lantai 1 dan sebagian lainnya sudah pulang, melepas lelah dan penat mereka setelah melakukan kegiatan orientasi untuk mahasiswa baru.

Semenjak kejadian itu, banyak rumor tidak sedap yang menghampiriku dan Tiffany. Aku diisukan menjadi orang ketiga yang merusak hubungannya bersama Siwon. Seolhyun mengetahui hal itu dan menanyakan kebenarannya karena dia mendapat beberapa foto aku yang sedang bersama Tiffany, membawanya dalam pelukanku begitupun sebaliknya.

Setelah kujelaskan, untunglah Seolhyun mengerti. Hubungan kami kembali membaik. Aku masih melakukan aktivitasku bersama Seolhyun namun entah mengapa pikiranku selalu beralih pada Tiffany.

Bayangan tentang apa yang terjadi malam itu begitu mengusikku. Tangisnya, teriakan lemahnya, ketakutan dan rasa panik yang tergambar di wajahnya bermain dalam lamunanku bagai kaset rusak yang tak henti berputar.

Suatu hari ketika aku bertemu dengan Tiffany, entah kenapa dia terlihat tidak berani menatapku ataupun menyapaku dengan celaan yang selalu dilontarkan olehnya seperti biasa. Wajahnya terlihat begitu muram dengan kekosongan yang tersirat.

Aku ingin menyapanya lebih dulu namun tidak tahu mengapa rasanya bibir ini begitu berat untuk berucap. Akhirnya dia hanya berjalan melewatiku dengan tundukan kepalanya sementara pandanganku tak pernah terputus padanya.

Mata ini seakan telah diikat oleh rasa lain yang dia tumbuhkan di hatiku. Sebuah rasa yang tak kusangka bisa tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang tak pernah kuduga bisa kurasakan padanya.

Mengamati keseharian Tiffany adalah kegiatan baruku selain belajar, berorganisasi, bersantai bersama Seolhyun dan rutinitas lainnya. Setiap pagi Tiffany selalu menyempatkan diri untuk lari pagi sebelum berangkat ke kampus. Di jam kosong atau istirahatnya, Tiffany selalu duduk di taman belakang untuk membaca buku, mempelajari lagi materi kuliahnya atau hanya diam sambil mendengarkan lagu dengan earphone merah mudanya.

Perlahan dapat kupelajari ekspresi wajahnya ketika dia sedang  kelelahan, bersemangat, bersedih, bahagia, panik, bingung dan lainnya. Yang paling sering kulihat adalah ekspresi wajahnya ketika dia sedang melamun, menyendu dalam kekosongan berbalut hampa yang selalu berhasil disembunyikannya dari orang banyak.

Saat itu aku tidak sadar bahwa Tiffany perlahan sudah menguasai pikiranku. Dia sudah mencuri perhatianku yang seharusnya hanya tercurah untuk Seolhyun. Tapi waktu itu kondisinya memang agak sulit karena kekasihku itu sedang menjalani program pertukaran mahasiswa.

Selama 2 tahun aku dan Seolhyun menjalani hubungan jarak jauh. Dia di New York sedangkan aku sibuk dengan kuliahku dan observasiku pada Tiffany, sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan.

Hubungan jarak jauhku dengan Seolhyun masih berjalan lancar di tahun pertama hingga akhirnya di pertengahan tahun menuju kembalinya Seolhyun ke Seoul, kekasihku itu akhirnya memberitahuku bahwa selama di New York dia menjalin hubungan di belakangku bersama teman satu batch-nya, Kang Daniel.

Mendengar pengakuan perselingkuhan itu, aku marah tapi anehnya tidak seperti yang aku bayangkan.

Sore itu, secara mengejutkan aku hanya bertanya pada Seolhyun apa yang diinginkannya. Apakah dia memilih untuk bertahan atau melepasku. Seolhyun meminta waktu padaku selama 1 bulan untuk memikirkan semuanya. Dengan tenangnya aku mengiyakan permintaannya. Aku mengerti mengapa Seolhyun merasakan itu. Aku mengerti mengapa hatinya berpaling dariku.

Aku tahu karena itulah yang kurasakan padanya. Jadi jika aku marah, maka bukan Seolhyunlah objek dari amarahku melainkan diriku sendiri. Seolhyun bukan satu-satunya yang perlahan menghancurkan hubungan yang sudah lama terjalin ini.

Aku dan dia, kamilah yang perlahan mulai mengerti bahwa hati ini tidak lagi berdetak begitu kencang dengan rasa yang selama ini kami anggap sebagai cinta yang tak lekang dimakan waktu dan jarak yang memisahkan bahkan selama apapun hubungan itu terjalin.

1 bulan berlalu dan statusku bukan lagi sebagai kekasih Seolhyun, wanita yang kukira akan menjadi keabadianku. Dia memutuskan untuk melepasku untuk bersama Daniel yang ternyata langsung melamarnya.

Ada sedikit kecewa dan kesedihan dari perpisahan itu tapi aku mencoba untuk tidak menguatkan perasaan yang pada akhirnya hanya akan merugikanku.

Perhatian itu coba kualihkan. Aku mulai mencari kesibukan baru dengan kembali aktif di badan eksekutif mahasiswa setelah sebelumnya rehat karena pekelahianku dengan Siwon.

Kebetulan itu perlahan berubah menjadi sebuah takdir yang mulai terungkap. Dengan anehnya aku dan Tiffany disatukan dalam satu divisi pada acara ulang tahun universitas kami.

Awalnya kami canggung untuk berkomunikasi lagi tapi perlahan kegugupan serta kecanggungan itu terhapus. Itu semua terjadi sejak aku memutuskan untuk megurangi ego dan gengsiku pada wanita yang perlahan ingin kulindungi dengan hidupku. Tuhan juga sepertinya telah melunakan hati Tiffany karena wanita yang kuharapkan dapat menjadi masa kini dan masa depanku itu memberikan respon yang terbilang bagus dalam setiap usahaku untuk menjalin komunikasi dengannya secara baik.

Pertemanan itu mulai terbangun. Setiap pagi, jika kami memiliki kelas pagi di hari yang sama, aku selalu mengantarnya ke kampus. Awalnya Tiffany tidak mau tapi aku memaksa. Bahkan aku meminta bantuan ayahnya yang segera menyetujui permintaanku.

Jadilah kami sebagai sahabat yang mulai mengetahui pribadi masing-masing lebih dalam.

Dia mulai nyaman untuk menceritakan tentang dirinya dan hidupnya padaku begitupun aku yang mencoba untuk menjadi diriku yang sebenarnya padanya.

Aku tidak ingin menutupi semua kekuranganku dan memberi tahunya semua kelebihanku. Meskipun baru sebagai seorang sahabat, aku ingin kami menerima kekurangan ataupun kelebihan masing-masing serta mau saling mengingatkan dalam kebaikan maupun mencegah keburukan yang mungkin akan kami perbuat di masa mendatang.

Rezeki, Jodoh dan Maut… hanya Tuhan yang tahu. Semuanya sudah ditetapkan dengan porsinya masing-masing. Tuhan tahu kapan kita membutuhkan atau tidaknya sesuatu dalam hidup ini. Mungkin Seolhyun bukanlah sesuatu yang kubutuhkan karena Tuhan akhirnya mendekatkanku pada Tiffany, wanita yang bukan hanya menjadi keinginan hatiku namun menjadi sebuah kebutuhan yang membuat jiwaku merasa sepi bila tak ada dia yang mengisinya.

Hati ini serasa nelangsa jika dia tidak menemaniku bahkan untuk satu hari saja. Mungkin sepenting itulah seorang Tiffany Hwang untuku, seorang pria yang dulu sangat membencinya dan aku yakin dia juga merasakan hal yang sama.

Hari berganti menjadi minggu, minggu berganti menjadi bulan dan bulan berganti menjadi tahun. Tak terasa hampir setahun aku mulai dekat dengan Tiffany yang semakin hari semakin mengikat hatiku untuk mencintainya lebih dan lebih. Hanya senyuman atau sapaan singkatnya di pagi hari sudah mampu membua suasana hatiku menjadi lebih baik, membuatku siap menghadapi hari dengan hal-hal baik yang akan terjadi padaku.

Kebahagiaan itu selalu dia bagikan dengan tindakan sederhana yang mungkin bagi sebagian orang itu bukan apa-apa namun bagiku bermakna semesta.

Kini setiap pagi aku selalu menjemputnya, bahkan pulang pun aku yang mengantarnya tidak peduli semalam apapun dia akan pulang. Tiffany juga mau menungguku jika aku ada tugas hingga aku harus pulang larut malam. Jika sudah terlalu malam, maka aku akan mengantarnya dulu pulang ke rumah lalu aku kembali ke kampus, mengerjakan kewajibanku. Dia selalu memberikanku hasil dari resep masakan yang dicobanya. Pancake susu madu  buatannya adalah sarapan favoritku.

Setiap pagi aku selalu memintanya untuk membuatkan itu dan dia selalu mencoba untuk membuat variasi dari masakannya itu sehingga aku tidak pernah bosan untuk menyantapnya.

Perlahan persahabatan kami berubah menjadi sebuah hubungan yang lebih dari seorang teman namun belum bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih. Aku sudah mencoba mengkonsultasikan masalah ini pada kedua orangtuaku. Kuceritakan pada mereka bagaimana perasaanku yang sebenarnya pada Tiffany dan mereka senang mengetahui bahwa aku sudah tumbuh menjadi seorang pria yang siap membangun masa depannya. Awalnya aku tidak mengerti dengan ucapan itu tetapi akhirnya aku tahu maksud dari kedua orangtuaku. Ide mereka cukup gila sepertinya tapi mengingat masa perkuliahan kami yang akan segera selesai, aku menerima ide tersebut.

 Di hari kelulusan kami, lebih tepatnya pada jamuan makan malam yang sengaja diadakan untuk merayakan kelulusanku yang bersamaan dengan Tiffany, lamaran itu kusampaikan dihadapan kedua orangtuanya yang saat itu duduk bersampingan dengan orangtuaku. Tiffany terlihat terkejut dan tidak bisa berkata apapun mendengar permintaanku pada ayahnya untuk meminang putri semata wayangnya. Ayah Tiffany menyerahkan semua keputusan pada putrinya yang masih belum terbangun dari keterkejutannya. Aku mengerti dengan hal itu. Fokusku segera beralihan pada wanita yang kuharap dapat menjadi pendamping hidupku. Dia masih diam meskipun tatapan mata kami beradu. Kedua tangannya kugenggam dengan perlahan seakan dia adalah makhluk terindah di dunia ini, setidaknya dalam duniaku.

Pertanyaan itu kuajukan lagi padanya yang kini mulai fokus menatapku. Dia terlihat berpikir sebelum akhirnya menganggukan kepalanya. Kini aku yang terkejut sekaligus bahagia dengan jawaban yang diberikan olehnya. 6 bulan kemudian janji suci itu kuikat dengannya dihadapan Tuhan serta orang-orang tercinta yang menjadi saksi dalam momen yang hanya akan terjadi sekali dalam hidup kami. Dan hingga hari ini, Tuhan masih menyatukan kami dalam mahligai rumah tangga yang memang tidak selalu berjalan mulus namun semua itu semakin memperkuat cinta yang semakin hari semakin bertambah untuknya apalagi sejak kehadiran buah hati kami, putri kembarku, malaikat-malaikat kami.

“Fany-ah keman…” kata itu terhenti ketika kulihat nama yang sejak tadi menjadi fokus dalam panggilanku terbaring di ranjang kami, masih dalam riasan alami dan sederhananya.

“Sayang..” nama itu kupanggil namun mata itu masih terpejam seakan aku tak pernah berkata apapun padanya.

“Fany-ah.. bangunlah.. aku sudah pulang, Sayang.” Pipi putih bening meronanya kuelus dengan pelan dan beberapa detik kemudian kedua matanya mulai terbuka. Senyumkulah yang menyapanya ketika dia berhasil membuka kedua matanya perlahan.

“Sayang, kau sudah pulang?” suara serak sedikit paraunyalah yang menyambut kehadiranku. Setelah bangun tidur, suara Tiffany memang seperti itu hanya saja terkadang aku terlalu mengkhawatirkannya. Dia memiliki sedikit masalah dengan tenggorokannya. Jika Tiffany sudah kelelahan, biasanya suaranya akan menghilang. Obatnya hanya satu, istirahat.

“Aku baru saja tiba di rumah. Kau ingin tidur lagi? Biar aku saja yang…” tangannya menahan tubuhku yang akan beranjak dari kasur kami. Tubuhnya mulai terduduk. Dia menarikku untuk duduk disampingnya yang sudah mulai memasang wajah cantik dan enerjiknya.

“Tidak, aku baik-baik saja. Lebih baik kau sekarang duduk dan lepas lelahmu sejenak. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.”

“Tapi, Sayang..”

“Tidak ada kata tapi okay. Diam disini dan nikmati rasa lelahmu, Sayang.”

“Baiklah. Terimakasih.” dia sudah berlari kecil menuju kamar mandi sebelum suaraku terdengar olehnya.

Senyum itu yang menemaniku melihat kepergiannya. Jika itu adalah hal yang berhubungan denganku, Tiffany selalu gesit, teliti, detail dan hampir sempurna dalam melakukannya. M

ulai dari hal terkecil seperti menyiapkan pakaian kerja serta sarapanku di pagi hari. Jika sedang luang, terkadang istrikulah yang datang ke kantor membawakan makan siangku atau kami berdua pergi ke restoran, kafe dan tempat sejenisnya untuk memuaskan rasa lapar kami.

Di malam hari, dia selalu bergegas menyambut kedatanganku dan menyiapkanku air hangat untuk mandi melepas penat serta lelah selama seharian di kantor. Setelah itu istriku dan terkadang kedua putri kami yang menemaniku makan malam. Lebih sering istriku yang menemaniku karena biasanya Nayeon dan Siyeon sudah tidur jika aku pulang.

“Sayang.. airnya sudah siap!” teriakannya membuatku segera berdiri dan beranjak menuju ruang ganti, meninggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhku dan menggantinya dengan jubah mandiku.

.

.

.

“Mengapa kau lama sekali?” hanya senyum tampannya yang menjadi jawaban atas pertanyaanku tadi. Tubuhnya masih bergerak menghampiriku yang mencoba untuk tidak terjebak dalam pesonanya.

“Aigoo… kenapa istriku tidak sabaran sekali?” senyum bodohnya yang terlalu tampan itu membuat hatiku tidak kuat untuk melihatnya. Aku terdiam tak menjawab pertanyaan itu. Diamku seketika menjadi tawa baginya yang terlihat begitu berkarisma meski dalam kondisi terbodohnya  sekalipun.

“Kau sangat merindukanku ya sampai jadi seperti ini?” tawa itu kini disertai dengan senyum penuh godaan yang dilemparkannya padaku.

“Apa maks..” belum sempat aku berbicara, tubuhnya sudah membawaku ke dalam pelukannya. Tebalnya jubah mandi tidak menghalangi kehangatan tubuh kami yang mulai  menyatu dalam rasa yang tidak pernah biasa.

“Aku  merindukanmu… sangat merindukanmu, Fany-ah.” Pelukan itu dia lepas tapi tidak dengan tubuh kami yang masih menyatu seperti sepasang roti isi. Suara itu  terdengar begitu hangat dan lembut. Mata hitam keabuannya yang indah membawa hatiku dalam kedamaian baru setiap kali aku melihatnya. Hatiku serasa masuk dalam dimensi baru dimana hanya ada dia dan aku sesaat di dalam keabadian.

“Kau juga merindukanku kan, Sayang?” kini tawa yang menghampiriku mendengar pertanyaan itu. Suaranya begitu polos seperti anak kecil yang tak tahu apapun tentang kejamnya dunia.

“Aku juga sangat.. sangat.. sangat.. merindukanmu, Taetae.” Senyum itu semakin melebar setelah bibirnya kukecup singkat. Kecupan itu perlahan menjadi sebuah ciuman yang tak bisa kutolak saat bibirnya menyapa lagi milikku. Kelembutan bibirnya terasa kontras dengan kekasaran dari janggut dan kumis tipis yang menghiasi daerah dagu serta bawah hidungnya membuatku selalu merasakan sensasi baru ketika ciuman itu sedang kami lakukan.

“Tae…” dia masih begitu fokus menyentuh bibirku beserta isinya dengan miliknya sementara aku mencoba untuk menghentikannya.

“Taeyeon-ah..” telinganya seperti tertutup karena panggilanku seakan angin lalu.

“Sayang..” mengerti dengan nada panggilanku yang terdengar berbeda, perlahan ciuman itu dia lepaskan masih dengan nafas kami yang terengah-engah, saling beradu meskipun tak bertemu dalam bentuk yang baku. Untuk sesaat diam menjadi bahasa kami. Kedua jendela jiwanya menatapku seakan aku adalah dunianya. Mata hitam keabuannya menjeratku untuk tetap bertahan menatapnya seakan itu adalah hal paling berharga dalam hidupku dan memang seperti itulah kenyataannya.

“Aku mencintaimu,  Nyonya Kim..” dia berkata padaku yang masih memerah semu dalam ungkapan cinta yang takkan pernah jemu aku untuk mendengarnya.

“Aku juga mencintaimu Tuan Kim.” balasku dengan ketulusan yang kuharap dapat menggapai hatinya.  Tidak ada kata yang terucap ketika pandangan kami bertemu, terkunci dalam satu rasa dimana cinta bukan sebuah kata yg tepat untuk mendefinisikannya.

Hatiku terasa sangat damai dan tenang berada dihadapannya. Dingin dan sejuk adalah kata yang pas untuk menggambarkan bagaimana kehangatan yang diberikannya mampu mempengaruhiku.

Kuamati seluruh bagian wajahnya yang masih terlalu sempurna bagiku. Dagunya yang tidak terlalu runcing namun menegaskan garis wajahnya. Pipinya yang sedikit berisi terasa begitu nyaman untuk kucubiti atau kumainkan bersama si kembar. Bibirnya yang lembut dan terawat.

Hidungnya yang mancung menawan. Kedua mata hitam keabuannya yang selalu berhasil menghipnotisku. Kulit wajahnya yang putih sebening susu. Kedua alisnya yang cukup tebal serta jidatnya yang cukup lebar dan seksi.

Kebaikan dan ketulusan hatinya, tanggung jawabnya sebagai seorang pria, kekasih, suami, ayah dan kepala keluarga. Prinsipnya yang teguh memegang ucapan serta janjinya. Kesetiaannya untuk mencintaiku yang masih belum bisa menjadi sempurna untuknya.

Perjuangannya  mendapatkan kepercayaanku untuk mencintainya dan mengembangkan cinta kami.. semua hal itu selalu membuatku tak pernah lupa bersyukur karna Tuhan telah mengirimkanku seorang pria terbaik yang mampu membimbingku beserta keluargaku untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

“Taetae…” dia kembali tersenyum mendengar panggilan sayangku padanya.

“Heumh?” kedua lesung pipinya memaksaku untuk tunduk dalam ketampanannya.

“Lebih baik kau segera masuk ke bathtube atau airnya akan segera dingin.” pandanganku beralih pada bathtube yang sudah kami abaikan sejak tadi.

“Tapi aku masih ingin seperti ini.” dia masih belum mau melepaskan pelukannya dengan manja.

“Sayang.. kau masih bisa memelukku nanti.” kedua tangannya yang masih memegang pinggang dan punggungku dengan erat kini coba kulepaskan.

“Tapi aku ingin sekarang..” rajuknya manja dan sok imut, tidak sesuai dengan umurnya.

“Di bathtube nanti kau bisa memelukku atau… melakukan hal lainnya yang kau inginkan…” kata-kata terakhir itu biar aku yang mendengarnya dan biar angin yang membawanya jauh pergi dari pendengaran suamiku.

“Maksudmu…” sepertinya dia berhasil mendengarnya dan aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kuucapkan tadi.

“Ya.. biarkan aku melayanimu secara utuh untuk malam ini dan esok hari. Karena ini adalah harimu.” meski malu, kucoba untuk menatap wajahnya sekali lagi. Wajah itu terlihat begitu bahagia dan bersemangat namun ada kebingungan yang tergambar didalamnya.

“Hariku?” tanyanya terlihat masih saja tampan dengan wajah bingungnya.

“Sayang, kau tidak ingat hari ini adalah hari apa?” kupasang wajah terkejutku padanya yang masih mencoba mengingat hari apa sekarang.

“Hari Kamis?” jawaban itu mendapat gelengan kepala dariku.

“Tidak.. hari ini tanggal berapa?” kucoba mengingatkannya lagi.

“8.. Maret?” jawabnya ragu.

“Lalu?”

“Oh Tuhan!” dahi seksinya itu dia tepuk ketika dia sudah mengerti dengan petunjuk yang kuberikan padanya.

“Kau sudah ingat?” tanyaku dalam tawa yang coba kusembunyikan.

“Tentu. Tuhan.. bagaimana aku bisa melupakan hari ulang tahunku dan pernikahan kita? Maafkan aku Sayang.” wajahnya terlihat lega meskipun penyesalan itu masih menemaninya. Mungkin dia merasa bersalah karena lupa dengan hari penting kami.

“Kau tidak lupa, Sayang. Ulang tahunmu dan hari jadi pernikahan kita kan memang besok tapi aku memutuskan untuk merayakannya malam ini berdua denganmu dan besok bersama malaikat-malaikat kita.” kedua telapak tanganku membingkai wajahnya yang menatapku dalam diam. Seakan mengerti dengan tatapanku, wajahnya semakin merunduk dan dekat denganku. Dahi, hidung serta bibirnya mendapat kecupan hangat dariku yang membuatnya terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Terimakasih, Sayang. Kau memang istri yang paling baik dan terbaik untukku. Oh ya Nayeon dan Siyeon sudah tidur? Aku tidak mendengar suara mereka.” dia masih memelukku dengan erat dan hangat meskipun wajah kami kini tak menyatu seperti tadi. Hanya bagian bawah tubuh kami yang masih menempel begitu lengket seperti perangko.

“Kedua putri kita sedang menginap di rumah Hyorin Unnie, mereka tidak mau mengganggu malam kita.” Jawabku ringan meskipun ada cemas di dalamnya.

“Benarkah? Bukan karena Jinyoung dan Taeyoung?” Kedua mata Taeyeon menyipit. Alis kanannya naik lebih tinggi dari alis kirinya. Tatapan curiganya padaku masih tetap terlihat tampan meskipun cemas mulai mengusikku.

“Sayang.. kau terlalu protektif pada putri kita. Nayeon dan Siyeon  kan sudah 14 tahun, ini adalah masa-masanya mereka jatuh cinta dan merasakan cinta. Seperti yang kita alami dulu.” Kukeluarkan argumenku sementara dia masih menatapku dalam diam dengan mata kijangnya yang perlahan mulai menunjukan keganasannya.

“Mereka masih terlalu dini untuk menjalin cinta. Lagipula waktu itu aku belum tahu bahwa aku mencintaimu..” Aku tahu Taeyeon hanya ingin melindungiku buah hati kami tapi menurutku metodenya kurang tepat. Semakin kita keras pada anak maka keinginan mereka untuk melawan akan semakin besar. Cara terbaik adalah dengan menyentuh hati mereka maka mereka akan mencerna setiap nasehat ataupun saran dan bimbingan yang kami sebagai orangtua berikan pada mereka.

“Heumh.. pendapatmu ada benarnya. Tapi.. tidak ada salahnya kan membiarkan mereka merasakan hal yang bisa membuat kita bersatu dan bertahan hingga hari ini? Oh ya.. bukannya kau sudah menyukaiku ya diam-diam sejak kita masih kecil? Kau hanya melampiaskan rasa suka dan cintamu itu dengan cara yang salah hingga aku benar-benar membencimu waktu itu.” Senyum bulat sabit itu kuberikan padanya yang terlihat tak bisa menolak pesonanya. Taeyeon terdiam dengan pandangannya yang mulai terhipnotis olehku.

“Benarkah? Aku lupa…” pandangan itu mulai dia alihkan, seakan apa yang kulakukan tadi tidak ampuh padanya.

“YAH!!!!” detik berikutnya pukulan-pukulan kecil itu menghujani dadanya yang malah tertawa mendapat serangan dariku.

“Aigoo.. maafkan aku, Sayang. Apapun yang kau katakan tadi memang benar adanya.”  Pukulan-pukulan yang kuberikan padanya segera terhenti ketika dia membawaku dalam gendongannya. Meskipun gaun tidurku masih melekat, Taeyeon tetap memasukan tubuhku kedalam bathtube. Kehangatan itu seketika menyeruak ke seluruh penjuru tubuhku. Gaun merah mudaku kini sudah basah, memeluk tubuhku erat seakan tak mau lepas membuat siapapun yang melihatku sekarang bisa melihat apa yang tersembunyi di dalamnya.

“Taetae..” Suamiku tidak berkata apapun mendengar panggilanku padanya. Dia hanya tersenyum sembari melepas semua yang kini masih melekat di tubuhku. Aku hanya terdiam melihatnya menanggalkan bathrobe hitamnya yang menutupi tubuh polosnya. Dia mulai masuk ke bathtube duduk di belakangku, membawa tubuhku dalam dekapannya.

“Aku memang sudah menyukaimu sejak dulu namun hati ini masih kalah dengan logika dan gengsiku yang menentangnya.” Bisikan itu membuatku merasakan kehangatan lain yang menyambar hatiku selain kehangatan yang ditawarkan oleh cairan berbusa  dengan aroma menenangkan yang mengelilingi tubuh kami.

“Salah satu hal yang kusyukuri adalah ketika Tuhan menyadarkanku bahwa kau.. adalah wanita yang selama ini sebenarnya aku cintai meskipun kau bukan yang pertama untukku.”

“Tae…”

“Awalnya mungkin salah satu dari kita tidak pernah menyangka bahwa kita akan saling mencintai. Namun pada akhirnya kaulah yang menjadi masa kini serta masa depanku, bukan masa laluku dan aku bahagia dengan hal itu.”

“Taetae..”

Yes, Love?

“Terimakasih.” Hanya kata itu yang terbesit di pikiranku setelah mendengar ungkapan cintanya tadi yang begitu manis serta menghangatkan hati. Apa aku berlebihan? Kurasa tidak. Mengapa aku bisa dengan mudah mempercayai kata-kata manisnya itu padahal bisa saja kan itu semua hanya gombalan semata? Jika kalian menjadi aku dan telah bersamanya selama hampir 17 tahun ini, maka aku akan mempercayai kalian. Aku bisa dengan mudah mempercayainya karena selama ini.. yang kuketahui, kurasakan dan kualami, Taeyeon bukanlah pria yang banyak bicara tanpa aksi nyata didalamnya. Suamiku adalah pria yang memegang kata-katanya. Jika dia telah mengucapkan sesuatu maka sebisa mungkin dia akan mewujudkannya tidak peduli sesulit apapun usaha yang harus dilakukan olehnya.

“Selama jantung ini masih berdetak kasih itu akan selalu ada untukmu dan malaikat-malaikat kita, Sayang.” Mata kanannya mengedipkan pesona dan karisma yang sukses membuat jantungku selalu berdegup lebih kencang dibuatnya.

Wajah ini dia bawa kesamping kanan untuk bertemu dengannya dalam ciuman termanis dan terhangat yang selalu diberikan olehnya. Dengan sendirinya tubuhku seakan bergerak untuk menghadap padanya meskipun pagutan bibir kami masih terkoneksi.

Tubuhku kini telah berhadapan dengan miliknya. Dia bawa kedua kakiku untuk mengunci pinggangnya, benar-benar menyatukan tubuh kami tanpa jarak apapun di dalamnya. Kedua tanganku mengalungkan diri di lehernya sementara kedua tangannya menarik pinggang dan punggungku untuk semakin mendekat, meningkatkan intimasi kami.

.

.

.

“Kau yang memasak ini semua?” Taeyeon terlihat terkesima dengan apa yang terhidang di depan matanya.

“Tentu. Chef Tiffany yang memasak semua ini beserta kedua asistennya, Kim Nayeon dan Kim Siyeon!” tubuh suaminya itu Tiffany bawa untuk duduk di kursi meja makan yang sudah didekorasi seromantis mungkin untuk acara spesialnya bersama Taeyeon yang terlihat senang dengan usahanya.

“Ah.. aku yakin rasanya pasti enak!” garpu dan sendok telah dipegang tangan. Detik berikutnya makanan yang terhidang mulai Taeyeon santap mulai dari sesar salad, sup krim jamur, iga sapi bakar madu pedas kesukaannya hingga makanan penutup yang terlihat begitu menggugah selera.

“Sayang.. pelan-pelan makannya.” Ada kebahagiaan ketika Tiffany melihat sang suami begitu puas menyantap masakannya. Kepuasan itu muncul tak kala Tiffany melihat Taeyeon begitu menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya.

“Fany-ah.. ini sungguh lezat!” pujian itu terdengar begitu jujur dan Tiffany senang mendengarnya.

“Benarkah?” Taeyeon menganggukan kepalanya begitu semangat seperti anak kecil yang sedang mengkonsumsi hadiahnya.

“Kau ingin tambah lagi kentang tumbuknya?” Taeyeon menggelengkan kepalanya, mulutnya terlihat masih penuh dengan makanan yang sedang dikunyahnya.

“Tidak Sayang, terimakasih. Ini saja dulu. Ayo buka mulutmu.. kau juga harus merasakan kelezatan makananmu.” Tiffany tersenyum melihat sang suami yang membawa potongan dari iga bakar untuknya. Mulut itu Tiffany buka ketika potongan iga bakar itu tiba di depan mulutnya. Perlahan ia mulai meresapi kekayaan rempah yang terasa dari makanan favorit sang suami yang coba ia buat untuk kesekian kalinya.

“Bagaimana, sempurna kan? Kau memang tahu sekali bagaimana lidahku bekerja, Sayang. Terimakasih.” Semua kenikmatan itu bertambah ketika senyum bulan sabit khas istrinya itu menjadi jawaban atas  pertanyaan Taeyeon tadi. Senyuman itu begitu indah dan cantik, sama seperti pemiliknya yang selalu berhasil membuat suasana hatinya menjadi lebih baik dan menyenangkan.

“Kembali kasih, Tuan Kim. Lagipula aku tahu seharian ini kau pasti belum bertemu dengan makanan yang bisa memperbaiki suasana hatimu kan?” mata itu kini memberikan kedipannya pada Taeyeon yang semakin terpesona pada sang istri.

“Bagaimana kau tahu?” dalam tawa itu ada senyum kebahagiaan yang tidak bisa Taeyeon sembunyikan.

“Tadi siang Yonjae meneleponku. Dia meminta saran padaku untuk menenangkanmu.” bibir itu Taeyeon buka dengan lebar ketika suapan dari sang istri datang menghampirinya.

“Oh… pantas tadi Yonjae tiba-tiba datang ke ruanganku membawa galaxy macaroon seperti yang sering kau belikan untukku.” Tiffany tertawa melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat begitu menggemaskan ketika menyadari bahwa dirinyalah yang memberi saran pada sahabat sang suami sekaligus rekan kerjanya.

Tadi siang Yonjae menelepon Tiffany, bercerita tentang kekacauan kecil yang dibuat oleh karyawan department penjualan yang membuat Taeyeon mendapatkan email teguran dari klien setianya yang tidak puas dengan kinerja karyawan perusahaan Taeyeon. Setelah membaca surat elektronik tersebut, suasana hati Taeyeon menjadi sedikit buruk.  Yang terkena imbas paling besar adalah manajer penjualan dan itu adalah Yonjae. Meskipun Yonjae dan Taeyeon bersahabat tapi jika dalam urusan pekerjaan, mereka berusaha sebisa mungkin untuk menjaga profesionalitas.

“Tapi kalian sudah berbaikan kan? Yonjae tadi bilang kau menyeramkan sekali.” Taeyeon tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Ia menyimpan garpunya lalu mengambil jari manis sang istri, menatap wajah bidadari dihadapannya itu begitu lembut dan dalam,  penuh dengan kesungguhan.

“Semarah apapun aku pada Yonjae, aku tidak akan bisa membencinya. Dia yang menemaniku membangun perusahaan kami. Kami sudah berbaikan tadi sebelum pulang. Aku meminta maaf padanya dan dia juga meminta maaf padaku. Jadi intinya… kami sudah saling memaafkan. Kau tidak usah khawatir.” Hidung mancung milik istrinya itu Taeyeon cubit pelan sementara sang pemilik menutup kedua matanya dalam tawa geli.

“Sayang, aku tahu kau bekerja begitu keras sejak dulu hingga saat ini untuk memajukan perusahaanmu yang kau bangun dari nol tanpa bantuan kedua orangtua kita. Meskipun kekayaan itu ada untuk memanjakan kita, kau tidak pernah memanfaatkannya untuk membuat hidup kita menjadi berleha-leha. Kau selalu mengajarkanku dan kedua buah hati kita tentang kesederhanaan, kerja keras, serta pelajaran hidup lain yang tidak akan kami dapatkan dari sekolah formal manapun di dunia ini. Aku ingin kau tahu bahwa aku bangga padamu. Aku mengagumi semua usaha yang kau lakukan untuk membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan baik dibanding dengan orang lain yang mungkin masih di bawah kita dalam kondisi finansialnya.”

“Aku tidak tahu apakah aku perlu meyakinkanmu lagi  bahwa hidupku akan kurang bermakna tanpamu yang telah berhasil membuatku memiliki 2 malaikat yang selalu mencerahkan hidup ini.”

“Kau tahu.. jika aku meminta sesuatu padamu, pasti kau akan memberikannya. Kau akan menyediakan apapun keinginanku tak peduli sesulit apapun itu.”

“Setiap hari kau selalu berbicara padaku bahwa kita harus tetap merendah meskipun Tuhan telah menitipkan berbagai berkah dan rahmatnya dengan anak, harta, kekayaan dan jabatan yang sekarang kita pegang, Satu hal yang selalu kuingat adalah semakin besar pendapatan kita, maka semakin besar harta yang harus kita bagikan pada yang membutuhkan bukan sebaliknya, semakin besar pendapatan maka semakin besar pula pengeluarannya. Kau selalu berkata bahwa sekecil apapun hal yang kita peroleh dan miliki, jika selalu disertai dengan rasa syukur dan ikhlas maka itu akan terasa besar dan bertambah. Itu hanya sebagian kecil pelajaran hidup yang selalu kau bagikan padaku dan kedua putri kita yang menginspirasi dan menantangku untuk menjadi manusia yang lebih baik.”

“Fsany-ah..”

“Aku berjanji padamu untuk terus memperbaiki diriku baik itu sebagai seorang istri maupun ibu dari kedua malaikat kita. Meskipun kini usiaku sudah tidak semuda dulu, aku akan tetap berusaha menjadi seorang gadis yang sukses membuat logika dan gengsimu takluk kepada cintamu padaku. Aku akan mengencangkan bagian-bagian yang kendor dari tubuhku, mempercantik tatanan rambutku, tetap mengenakan busana-busana terbaru untuk membuatku tetap terlihat sempurna hanya untukmu.  Kau adalah segala sesuatu yang kubutuhkan dan kuinginkan dari seorang pria maka dari itu aku ingin memberikan nafasku, kekuatanku serta hidupku hanya padamu dan keluarga kecil kita”

“Namun.. jika cinta yang kau butuhkan, aku akan memberikannya dengan senang hati. Mengapa? Karena mencintaimu adalah salah satu nikmat Tuhan yang tidak mungkin kuingkari hadirnya. Kau adalah pria terbaik yang Tuhan kirimkan padaku. Setiap detik bersamamu adalah saat terindah bagiku. Dalam doaku, aku selalu meminta kepada Tuhan untuk tidak menghilangkanmu dari hidupku selamanya. Kau adalah sosok yang tidak mungkin kutemukan lagi dari pria manapun.”

“Sayang.. terimakasih. Terimakasih banyak. Kata terimakasih mungkin tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Aku.. aku..”

Happy Birthday to you, Mr. Taeyeon Kim. I love you to eternity

Happy Anniversary to us, Mrs . Tiffany Kim. I love you too my serenity, my eternal love.”

-FIN-

Eternity  Note:

FF diatas sangat terinspirasi dari lagu Cater To You

jadi mungkin jika ada yang menemukan kemiripan atau bagaimana, mohon dimaklumi 🙂

Oh iya ini juga udah pernah di post di wp lama cuma ak pw

Maka bersyukurlah kalian yg baca disini

So please leave comment dan kasih tau aku apa yg kalian pikirkan tentang ff ini

33 thoughts on “09-03-1989

  1. Yaa authorku, , ini manis bnget bikin gemes ndiri,, senyam-senyum ampe akhir, lupa klo liat kurang enaknya. Wlupun sempet salah fokus aku pikir ini yuri,, kok ada kata si kembar.. abis kata pujian bla..bla.., ternyata aku aja yang byun jdnya kliru hehe,, ga inget dua anak mereka kembar ya? Td kan udah dibilang tae pria,,hehe maafkan mata sya slh liat.
    Beruntung yang dpt fany hadehh,, begitu pula sebaliknya tae. Cari yang kek gini nih,, ya Allah nikmat bner idup mereka akhirnya. Suami istri idaman lengkap.
    Dan thor,, ini enak bnget bacanya, dan tambah enak kebayang makanan itu aku jg suka banget yang terkait jamur ama iga sapi, kecuali kata pedes hehe,, 😀
    Hari jd tambah menyenangkan breng org tersayang, cuma kok keceriaan si duo kecil turunan mereka ga kliatan nenk 🙂
    Ya dgr lagu cater,, tambah pas lengkap lg hidup ini, taeny manis nikmat bener idupnya hehe 😀 lama dinanti tulisan nya skali nongol bawa yang pas,, mksh,, sehat,, semangat dan senyum selalu buatmu author 😀

    Like

  2. Gue agak bingung untuk tau itu pov tae pov fany awalnya bingung soalnya ga ada itu lah. Sweet yaaaah taeny duh ilah malem minggu lagi

    Like

  3. Kayak pernah baca tapi dimana ya??? Wkwkwk tapi taenynya mah selalu sweet gak diff gak di real life mereka selalu sweet bikinku meleleh secara tiffany boo nya taetae , tapi apalah dayaku yang menyukai couple selingkuhan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s